KITAINDONESIASATU.COM – Lebanon akhirnya memiliki presiden baru setelah lebih dari dua tahun mengalami kekosongan politik. Pada Kamis, 9 Januari, parlemen Lebanon memilih Kepala Angkatan Darat, Joseph Aoun, sebagai presiden dalam pemungutan suara yang dihadiri oleh 128 anggota parlemen. Aoun berhasil meraih 99 suara di putaran kedua, naik dari 71 suara yang didapatnya pada putaran pertama.
Keberhasilan ini terjadi setelah serangkaian upaya diplomatik internasional untuk mengakhiri kekosongan kepemimpinan di negara yang tengah bergulat dengan krisis ekonomi, politik, dan keamanan.
Tantangan Kepemimpinan di Tengah Kekosongan
Kursi kepresidenan Lebanon kosong sejak 31 Oktober 2022, ketika Michel Aoun, presiden sebelumnya, menyelesaikan masa jabatannya. Selama lebih dari dua tahun, kekosongan ini menciptakan ketidakpastian politik dan memperburuk krisis ekonomi yang sudah lama melanda negara tersebut.
Pemilihan Joseph Aoun menjadi presiden merupakan hasil dari tekanan diplomatik internasional, termasuk dari Komite Lima yang terdiri dari Mesir, Prancis, Amerika Serikat, Qatar, dan Arab Saudi. Diplomat dari negara-negara ini memantau pemungutan suara untuk memastikan proses berjalan lancar.
Sesuai dengan Konstitusi Lebanon, posisi presiden harus dipegang oleh seseorang dari komunitas Kristen Maronit, perdana menteri berasal dari Muslim Sunni, dan ketua parlemen dari Muslim Syiah. Ini mencerminkan sistem pembagian kekuasaan yang rumit di negara tersebut.
Profil Joseph Aoun
Joseph Aoun lahir pada 10 Januari 1964 di Sin El-Fil, distrik Matn, Lebanon timur. Ia memiliki dua gelar sarjana di bidang ilmu politik dan ilmu militer. Selain itu, ia menguasai tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Prancis.
Aoun memulai karier militernya sebagai relawan pada 1983. Setelah melalui berbagai pelatihan di Lebanon dan luar negeri, termasuk di Amerika Serikat, ia diangkat sebagai Komandan Angkatan Darat pada Maret 2017. Prestasinya dalam bidang militer telah diakui dengan lebih dari 15 medali kehormatan, termasuk medali perang, medali persatuan nasional, dan medali dalam perang melawan terorisme.
Salah satu pencapaian terbesar Aoun sebagai komandan adalah meluncurkan operasi militer anti-terorisme bernama Fajr al-Joroud pada 19 Agustus 2017. Operasi ini berhasil mengusir afiliasi ISIS dari wilayah Baalbek di perbatasan timur dengan Suriah.
Joseph Aoun menjadi komandan militer kelima yang diangkat sebagai presiden Lebanon, mengikuti jejak pendahulunya seperti Fouad Chehab, Emile Lahoud, Michel Suleiman, dan Michel Aoun. Hal ini menunjukkan kepercayaan besar masyarakat Lebanon terhadap latar belakang militer dalam mengelola krisis nasional.
Namun, tantangan yang dihadapi Joseph Aoun jauh lebih besar dibandingkan pendahulunya.
Tantangan Ekonomi dan Politik
Lebanon telah menghadapi krisis ekonomi sejak 2019, yang menyebabkan inflasi tinggi, devaluasi mata uang, dan meningkatnya tingkat kemiskinan. Sebagai presiden, Aoun harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mengamankan bantuan internasional dan mereformasi sektor ekonomi yang rusak.
Sistem politik Lebanon yang berbasis sektarian sering kali menjadi penghambat tercapainya konsensus nasional. Joseph Aoun perlu bekerja sama dengan semua pihak untuk mengurangi ketegangan politik dan memastikan stabilitas pemerintahan.
Pada 27 November 2024, Aoun memimpin penempatan tentara Lebanon di wilayah selatan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Israel. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengakhiri lebih dari 14 bulan pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang dimulai pada Oktober 2023.
Serangan Israel ke Lebanon sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 4.063 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 16.664 lainnya. Upaya rekonstruksi pasca-konflik ini akan menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Joseph Aoun.
Harapan di Bawah Kepemimpinan Joseph Aoun
Sebagai pemimpin baru Lebanon, Joseph Aoun dihadapkan pada tugas berat untuk memulihkan kepercayaan publik, meningkatkan kondisi ekonomi, dan memastikan stabilitas politik. Dukungan internasional serta kerjasama dengan berbagai pihak di dalam negeri akan menjadi kunci keberhasilannya.
Dengan latar belakang militer yang solid dan pengalaman dalam menghadapi krisis, masyarakat Lebanon berharap Joseph Aoun dapat membawa negara mereka menuju masa depan yang lebih baik.




