KITAINDONESIASATU.COM-KH Hafis Gunawan terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten 2025-2030. Kepastian terpilih setelah dilakukan musyawarah mufakat dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) V NU Banten di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2, Batujaya, Batuceper, Kota Tangerang, Banten, Rabu (29/1/2025) malam.
Dalam sambutannya setelah terpilih, Kiai Hafis berjanji total mengurus NU. “Jangan bawa NU ke rumah dan pesantren. Yang di rumah dan pesantren saja yang dibawa ke NU,” kata pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Khaer ini.
Pada Konferensi Cabang (Konfercab) VII NU KabupatenTangerang pada pertengahan 2024, Kiai Hafis terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Tangerang periode 2024-2029.
Kiai Hafis adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Khaer Kabupaten Tangerang. “Pesantren sudah 16 tahun,” ujar kiai yang juga pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Khaer seperti dilansir NUOB.
“Awalnya hanya ngaji sorogan santri, hanya lima santri,” ujar kiai kelahiran 13 Mei 1975. Pada 2008 pesantren berdiri. Awalnya hanya 23 santri. Seiring berdirinya pesantren, berdiri pula madrasah. “Madrasah tsanawiyah dan aliyah. Awalnya siswa-siswi pulang pergi. Kemudian berasrama dan mondok di sini,” ujar pria yang menimba ilmu di Al Hikmah Curug selama 9 tahun ini.
Alumnus MAN 2 Serang itu melanjutkan, luas pesantren yang berada di Babakan, Sukabakti, Curug, satu hektare. “Ini (pesantrennya di Curug) pusat. Ini awalnya ya merintis. Selanjutnya, kami mengembangkan dan mendirikan cabang. Ada dua. Di Ranca Iyuh, Panongan, Kabupaten Tangerang. Luas yang di Panongan, 6.000 meter dan 8.000 meter,” kata pria jebolan S1 matematika di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kusuma Negara Jakarta pada 2006.
Tak hanya madrasah tsanawiyah dan aliyah saja. Pada tahun 2012 mendirikan sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan dua jurusan yaitu teknik komputer dan jaringan serta administrasi perkantoran. “Sekarang jumlah santri sekitar 1.900 orang. Tak hanya di pesantren atau asrama, di sekolahpun mereka dipisah, yang putri sendiri dan yang putra sendiri,” ungkap suami Hj Nuryanah.
Kiai yang mengaku memilih S1 matematika karena hobi itu, menambahkan, saat ini di pesantrennya juga ada program menghafalkan Alquran. “Sejak awal hingga sekarang khasnya tetap kuning. Masih ada ngaji sorogan, antara lain kitab I’lal, Awamil, dan Jurumiyah,” kata pria asli Panongan, Kabupaten Tangerang.




