Berita UtamaSosok

Gus Miftah, dari Dakwah Marjinal Mendekat Kekuasaan

×

Gus Miftah, dari Dakwah Marjinal Mendekat Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Gus Miftah, siap menerima ajakan Presiden Terpilih Prabowo gabung ke kabinet. (Ist)
Gus Miftah, siap menerima ajakan Presiden Terpilih Prabowo gabung ke kabinet. (Ist)

Pesantren Ora Aji

Kecerdasan Gus Miftah telah terlihat sejak sekolah dasar. Ia Gus menyelesaikan Madrasah Aliyah (setara SMA) dengan predikat sebagai peraih NEM tertinggi di se-Provinsi Lampung, pada 1999.

Pria kelahiran Lampung Timur ini, juga pernah mengenyam pendidikan pesantren di Bustanul Ulum Jayasakti, Lampung Tengah.

Setelah lulus Aliyah, ia melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Daerah Istimewa Yogyakarta, namun tak selesai. 

Di perguruaun tinggi, ia sempat aktif di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi ke Ormas NU (Nahdlatul Ulama).

Ia baru menamatkan gelar sarjana, pada 2023, di Universitas Islam Sultan Agung jurusan Pendidikan Agama Islam di Semarang.

“Saya ambil gelar sarjana, hanya ingin menyenangkan ayah. Yang ingin anaknya menamatkan sarjana,” ucapnya sembari tertawa.

Gus Miftah mulai berdakwah pada usia 21 tahun, tepatnya pada tahun 2002. Awalnya, ia sering melaksanakan sholat di mushala sekitar Sarkem, yang merupakan area lokalisasi di Yogyakarta. 

Gus Miftah mulai rutin mengadakan kajian agama di tempat tersebut dengan jemaah dari kaum marjinal. 

Model dakwah seperti itu diterima baik oleh pekerja di dunia malam. Kemudian ia memperluas dakwahnya ke klub malam dan salon plus plus.

Setelah berdakwah keluar masuk di tempat-tempat kelab malam, ia mendirikan Pondok Pesantren Ora Aji di Tundan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, pada 2011.

Nama pesantren sengaja tidak menggunakan bahasa Arab. Ia memilih nama “Ora Aji,” yang berarti “tidak berarti,”.

“Memiliki makna bahwa hanya ketaqwaan yang diakui di hadapan Allah,” ucapnya menjelaskan arti Ora Aji.

Kekhasan pondok pesantren ini, tidak hanya menampung santri, juga termasuk anak jalanan, anak punk, dan mantan preman.

Dakwah di kelab malam bukan tanpa kritik. Ia dianggap merendahka agama, lantaran berdakwah di tempat-tempat hiburan malam.

Berbagai protes pernah dialamatkan ke Gus Miftah. Seperti pada 30 April 2021 lalu, ia menghadapi tudingan negatif setelah memberikan orasi dalam peresmian renovasi Gereja Bethel Indonesia.

Pada tahun 2022, ia juga dikritik karena dianggap menghina Ustadz Khalid Basalamah terkait wayang di pondok pesantren. 

Terbaru, pada 12 November 2023, Gus Miftah menyebut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai identik dengan Wahabi.

Gus Miftah memiliki darah biru dari  jalur ayah, M Murodhi bin M Bonitan bin Kyai Usman, yang merupakan keturunan dari Raden Patah bin Brawijaya V.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *