KITAINDONESIASATU.COM – Ribut-ribut soal PIK (Pantai Indah Kapuk)2 ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), ternyata Bumi Serpong Damai (BSD) City di Tangerang Selatan, juga masuk dalam PSN.
Sebelum berakhir masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, pada 18 Maret 2024, Joko Widodo telah mengumumkan 13 proyek lainnya sebagai PSN, termasuk BSD City.
Tidak seperti PIK2 yang menimbulkan kehebohan, BSD City tidak mengalami gejolak saat ditetapkan sebagai PAN.
Seperti diketahui, sebelumnya masih bernama Bumi Serpong Damai, kawasan perumahan yang serba lengkap ini dimiliki oleh pengusaha properti kenamaan: Ciputra.
Saat badai krisis moneter menerpa dunia, termasuk Indonesia, pada 1998, diketahui BSD terkena dampak keuangan yang luar biasa.
Ciputra terpaksa melepas saham mayoritasnya kepada pengusaha Eka Tjipta Widjaja.
Eka Tjipta lewat Sinar Mas Land kemudian mengakuisi dan mengubah nama BSD menjadi BSD City, dikelola oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE),
Pada Mei 2024 lalu, PT Paraga Artamida yang merupakan anak perusahaan di bawah bendera Sinar Mas Land ini membeli 12,55 juta saham BSDE dengan rata-rata harga Rp 959,78.
Dengan demikian Paraga menggenggam sebanyak 8.436.654.864 lembar atau 39,85% saham BSDE.
Margaretha Natalia Widjaja, cucu dari pendiri Sinarmas Eka Widjaja, tercatat sebagai pengendali yang ditunjuk.
Media ekonomi dan bisnis asal Amerika Serikat, Forbes, menempatkan keluarga Widjaja di urutan ke-4 orang terkaya di Indonesia pada 2024.
Mereka dicatat memiliki harta sekitar US$18,9 Miliar atau Rp305 Triliun. Besarnya nominal harta yang dimiliki keluarga Widjaja berasal dari Sinar Mas Group yang kini dikelola oleh Franky Oesman Widjaja, salah satu dari anak Eka Tjipta.
Namun, keberhasilan Sinar Mas Group hari ini diperoleh dari kerja keras perintisnya, yakni Eka Tjipta Widjaja yang ternyata bisnisnya bermula dari jualan kelontong.
Pria kelahiran 27 Februari 1921 Ini merupakan orang asli Fujian, China, nama asalnya adalah Oei Ek Tjhong.
Ia dibawa ayah datang ke Indonesia untuk mencari peruntungan di Makassar, Sulawesi Selatan. Di daerah baru ini, dia sempat membantu orangtua berjualan kelontong dari pintu ke pintu.
Barulah ketika dewasa, Eka mulai berdagang sendiri. Sempat mengikuti jejak sang ayah berdagang kelontong dan jual-beli babi.
Babi-babi itu dijual ke tentara Jepang di Makassar, saat Negara Sakura ini menduduki Indonesia, pada 1943.
Selain itu, Eka juga pernah berjualan roti, sirup, limun, dan biskuit. Semua dijual dari rumah ke rumah.
Namun, terkadang dia berjualan juga sampai ke pulau lain. Tercatat dia pernah berdagang ke Pulau Selayar, berjarak 157 Km.
“Tahun 1950 saya mulai berdagang kopra sampai Pulau Selayar,” kata Eka Tjipta suatu ketika kepada wartawan.
Setelah lama berada di Sulawesi, Eka pindah ke Surabaya. Di sana dia berjualan dengan cara unik, yakni menjual harga di bawah pasaran.




