KITAINDONESIASATU.COM – Konferensi Malino merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Meskipun tidak setenar Konferensi Meja Bundar atau Perjanjian Linggarjati, Konferensi Malino memiliki peran besar dalam strategi politik Belanda untuk mempertahankan pengaruhnya di Indonesia.
Dalam konferensi inilah muncul gagasan pembentukan negara-negara bagian yang kemudian melahirkan Negara Indonesia Timur (NIT).
Latar Belakang Konferensi Malino
Konferensi Malino diselenggarakan pada 16–25 Juli 1946 di Kota Malino, Sulawesi Selatan. Saat itu, Belanda berusaha kembali menguasai wilayah Indonesia setelah kekalahannya dari Jepang pada Perang Dunia II. Namun, mereka menghadapi perlawanan dari Republik Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaan.
Untuk melemahkan posisi Republik Indonesia, Belanda menerapkan strategi federalisme, yaitu membentuk negara-negara bagian di luar wilayah kekuasaan Republik. Konferensi Malino menjadi langkah awal dalam pembentukan negara-negara tersebut, khususnya di wilayah Indonesia Timur.
Tokoh yang Terlibat dalam Konferensi Malino
- Hubertus Johannes van Mook
Van Mook adalah Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan tokoh sentral di balik Konferensi Malino. Ia merupakan arsitek utama kebijakan federalisme Belanda di Indonesia. Melalui konferensi ini, Van Mook berupaya meyakinkan para tokoh daerah bahwa sistem federal lebih menguntungkan dibandingkan negara kesatuan.
Van Mook melihat Indonesia sebagai wilayah yang terlalu luas dan beragam untuk dikelola oleh satu pemerintahan pusat. Pandangan inilah yang kemudian memicu penolakan keras dari kalangan nasionalis Indonesia.
- Dr. H.J. van der Plas
Van der Plas adalah pejabat tinggi kolonial Belanda yang turut berperan dalam perencanaan dan pelaksanaan Konferensi Malino. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif membangun komunikasi dengan elite lokal di Indonesia Timur untuk mendukung pembentukan negara federal.
Tokoh-Tokoh Daerah yang Terlibat
Selain perwakilan Belanda, Konferensi Malino juga dihadiri oleh sekitar 39 tokoh dari berbagai wilayah di Indonesia Timur dan Kalimantan. Mereka berasal dari kalangan bangsawan, raja, serta tokoh masyarakat lokal.
- Anak Agung Gde Agung (Bali)
Anak Agung Gde Agung merupakan tokoh penting dari Bali yang kemudian menjadi Presiden Negara Indonesia Timur (NIT). Ia dikenal sebagai sosok terpelajar dan memiliki pandangan moderat terhadap hubungan Indonesia–Belanda.
- Nadjamuddin Daeng Malewa (Sulawesi Selatan)
Ia adalah tokoh politik dari Sulawesi Selatan yang kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri pertama Negara Indonesia Timur. Perannya sangat besar dalam proses administratif dan politik pasca-Konferensi Malino.
- Sultan Muhammad Jabir Syah (Ternate)
Sebagai Sultan Ternate, ia mewakili wilayah Maluku Utara. Keterlibatannya mencerminkan dukungan sebagian elite kerajaan terhadap konsep negara federal yang ditawarkan Belanda.
- Andi Mappanyukki (Raja Bone)
Raja Bone merupakan tokoh bangsawan Bugis yang memiliki pengaruh besar di Sulawesi Selatan. Kehadirannya menambah legitimasi konferensi di mata masyarakat lokal.
- Perwakilan dari Kalimantan
Beberapa tokoh adat dan pemimpin lokal dari Kalimantan juga turut hadir, meskipun wilayah ini kemudian memiliki dinamika tersendiri dalam pembentukan negara bagian.
Tujuan Utama Konferensi Malino
Konferensi Malino memiliki beberapa tujuan utama, antara lain:
- Membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) sebagai bagian dari negara federal bentukan Belanda.
- Mengurangi pengaruh Republik Indonesia yang saat itu berpusat di Yogyakarta.
- Menggalang dukungan elite lokal agar sistem federal tampak sebagai keinginan rakyat, bukan paksaan kolonial.
- Menjadi fondasi pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1949.
Dengan kata lain, konferensi ini merupakan langkah politik strategis Belanda untuk mempertahankan kepentingannya di Indonesia pasca-kemerdekaan.
Dampak Konferensi Malino bagi Sejarah Indonesia
Konferensi Malino membawa dampak besar, baik jangka pendek maupun jangka panjang:
- Terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT) pada tahun 1946 dengan pusat pemerintahan di Makassar.
- Memperkuat konflik politik antara kelompok pro-federal dan pendukung negara kesatuan.
- Menjadi bagian dari proses menuju Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1949.
Pada akhirnya, sistem federal gagal bertahan dan Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1950.
Konferensi Malino merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah politik Indonesia pasca-kemerdekaan. Melalui konferensi ini, Belanda berusaha membentuk negara federal dengan melibatkan berbagai tokoh lokal dari Indonesia Timur. Tokoh-tokoh seperti Van Mook, Anak Agung Gde Agung, Nadjamuddin Daeng Malewa, dan Sultan Jabir Syah memainkan peran penting dalam dinamika politik saat itu.
Meskipun tujuan awalnya adalah memperkuat pengaruh Belanda, Konferensi Malino justru menjadi bagian dari proses panjang yang akhirnya mengantarkan Indonesia menuju bentuk negara kesatuan yang utuh. Memahami peristiwa ini membantu kita melihat betapa kompleksnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tidak hanya melalui peperangan, tetapi juga lewat diplomasi dan politik.






