Penulis: Agnes Tresia Silalahi
Editor: BiiHann
KITAINDONESIASATU.COM – Pentingnya jaringan sosial dalam menguatkan tata kelola desa wisata menjadi fokus utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Desa Wringinanom. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas kelembagaan desa wisata melalui kolaborasi akademisi dan masyarakat.
FGD diikuti oleh anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wringinanom bersama para dosen UPN “Veteran” Jawa Timur yang menyoroti peran jejaring sosial sebagai modal penting dalam pengelolaan dan pengembangan potensi wisata berbasis masyarakat. Umumnya, permasalahan yang timbul dalam pengembangan desa wisata adalah terkait dengan sarana, prasarana, dan kapasitas SDM. Namun, jaringan sosial merupakan salah satu sisi yang bisa dimanfaatkan dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi.
Hasil diskusi ditemukan bahwa permasalahan yang dihadapi saat ini masih daoat di toleransi oleh masayarakat. Salah satu permasalahan yang muncul di lapangan terjadi pada beberapa dusun yang dilintasi oleh jeep dan wisatawan menuju kawasan Bromo.
Masyarakat setempat mengeluhkan kebisingan yang terjadi pada malam hari, sementara pada pagi harinya mereka harus segera beraktivitas sebagai petani. Meski demikian, bentuk toleransi tetap terjalin karena para pengemudi jeep tersebut pada umumnya merupakan bagian dari masyarakat desa atau bahkan kerabat dari warga setempat.
Table of Contents
Wisata Desa Wringinanom

Secara kelembagaan, Desa Wisata Wringinanom dikelola oleh Pokdarwis. Jaringan yang terjalin secara internal pada posisi pertama diduduki oleh Gapoktan, dimana Pokdarwis bekerjasama dengan Gapoktan dalam memenuhi supply dari bahan makanan dan minuman yang dibutuhkan dalam pariwisata, serta terdapat juga lahan yang dikelola bersama yang kemudian dimanfaatkan sebagai atraksi wisata. Selain itu, hubungan dengan UMKM juga dianggap penting, karena UMKM menyediakan souvenir khusus yaitu sandal yang terbuat dari eceng gondok, sebagai keunikan dari Desa Wringinanom yang hanya diberikan pada wisatawan yang berkunjung.
Aktor lain yang terhubung yaitu Pemerintah Desa, Paguyuban Jeep, Paguyuban Homestay, Travel Agent, dan Karang Taruna. Secara eksternal, terdapat hubungan dengan Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Dinas Pariwisata Kabupaten Malang, Universitas/Akademisi, dan Swasta.
Intensitas jaringan sosial yang dimiliki saat ini belum merata, sehingga masih terbuka peluang untuk meningkatkannya. Semakin tinggi intensitas hubungan dengan universitas, semakin besar pula kesempatan dalam bidang pengabdian kepada masyarakat dan hilirisasi penelitian. Kondisi ini tentu berdampak positif bagi pengembangan desa wisata yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Selain itu, peningkatan intensitas hubungan dengan dinas pariwisata juga berpotensi membuka akses terhadap bantuan fasilitas serta pengembangan sumber daya manusia yang dibutuhkan. Dalam hal ini, kedua belah pihak diharapkan dapat bersikap aktif dan saling mendukung.
Kegiatan FGD kemudian diakhiri dengan penyampaian saran serta rencana tindak lanjut kerja sama antara UPN “Veteran” Jawa Timur dan Desa Wisata Wringinanom. (*)





