Hal ini menjadi kontras yang mencolok dengan fenomena yang kita saksikan selama satu dekade terakhir, di mana loyalitas buta seringkali menjadi ukuran utama untuk promosi jabatan. Batas antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi seorang presiden pun kabur, menciptakan budaya birokrasi yang penuh kehati-hatian semu.😎
Namun, pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa membangun mentalitas pejabat publik yang seperti ini? Bagaimana kita bisa menumbuhkan karakter pemimpin yang berani dan berintegritas dalam sistem yang telah terlanjur terbiasa dengan konformitas?🔈
Revolusi mental yang diimpikan Presiden Joko Widodo pada awal masa pemerintahannya kini tak lebih dari bayangan samar di kejauhan. Apa yang dulu diharapkan menjadi transformasi besar dalam cara berpikir dan bertindak pejabat publik kini hanya jargon kosong.😎 Namun, pengangkatan Jenderal Kunto oleh Presiden Prabowo membuka kembali harapan akan realisasi visi ini.
Revolusi mental dalam konteks kepemimpinan publik bukan sekadar tentang mengganti individu-individu di posisi strategis. Ini adalah perubahan paradigma tentang bagaimana seorang pemimpin berpikir, bertindak, dan memengaruhi orang lain.
Kunto adalah contoh nyata dari figur yang mendobrak batas-batas yang ada. Dalam artikelnya di Harian Kompas, ia tidak hanya menunjukkan analisis tajam, tetapi juga keberanian untuk menyatakan pendapatnya meskipun tahu akan ada konsekuensi besar. Keberanian seperti inilah yang menjadi inti dari revolusi mental: keberanian untuk jujur, untuk berpikir kritis, dan untuk bertindak demi kepentingan yang lebih besar.
Visi manusia Indonesia
Apa yang dapat kita pelajari dari langkah Prabowo ini? Pada intinya, pengangkatan Kunto bukan hanya tentang seorang jenderal. Ini adalah pernyataan tentang visi manusia Indonesia yang diimpikan: sosok yang kuat, cerdas, berani, dan memiliki integritas.🔈




