Opini Kita

Pengantar Buku Puisi Esai Isbedy Stiawan Z. S.: Elegi Galian Tambang

×

Pengantar Buku Puisi Esai Isbedy Stiawan Z. S.: Elegi Galian Tambang

Sebarkan artikel ini
buku

Pemerintah lokal sering kali menjadi kolaborator dalam pengurasan kekayaan ini. Mereka memberikan izin eksploitasi tanpa memperhatikan dampak terhadap lingkungan maupun rakyat.

Neruda menulis dalam konteks tambang-tambang besar di wilayah seperti Chile, Peru, dan Bolivia menjadi medan perang tak terlihat.

Di Chile sendiri, tambang tembaga seperti Chuquicamata, yang dimiliki oleh perusahaan asing, menggambarkan ketidakadilan yang ia kritik.

Kekayaan tambang tersebut mengalir ke luar negeri, meninggalkan lubang menganga, pencemaran air, dan tanah yang tak lagi subur bagi komunitas lokal.

Namun, puisi ini tidak hanya bicara tentang kehancuran fisik, tetapi juga penderitaan manusia. Penduduk pribumi yang telah tinggal di tanah mereka selama berabad-abad dipaksa pergi, kehilangan hak atas tanah leluhur mereka.

Masyarakat hidup dalam kemiskinan ekstrem, meskipun mereka tinggal di atas kekayaan melimpah.

Pablo Neruda tidak sekadar menulis puisi. Ia menciptakan cermin yang memantulkan dosa-dosa kemanusiaan terhadap lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *