Pada awal 2010-an, HTC sempat menjadi pemain besar di industri smartphone dengan
inovasi awal seperti desain premium dan antarmuka Sense UI. Namun, mereka tidak
memiliki diferensiasi kuat dibanding pesaing seperti Samsung dan Apple, yang memiliki
strategi pemasaran agresif dan ekosistem produk lebih kuat. Akhirnya, HTC kehilangan
pangsa pasar karena produknya tidak cukup menarik dibanding merek lain yang menawarkan
inovasi lebih jelas. (https://nextren.gridtechno.com/read/01934964/htc-phk-ribuan-karyawan-
karena-terus-rugi-produksi-smartphone-bisa-berhenti?page=3#google_vignette)
Esia adalah salah satu operator CDMA di Indonesia yang sempat populer karena tarif
murahnya.
Namun, mereka tidak memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan
dibanding operator GSM seperti Telkomsel, XL, dan Indosat, yang menawarkan jangkauan
lebih luas dan layanan lebih inovatif. Ketika teknologi CDMA mulai ditinggalkan, Esia gagal
beradaptasi dan akhirnya berhenti beroperasi. (https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-
4599082/masih-ingat-operator-esia-begini-nasibnya-sekarang)
Centro adalah salah satu department store yang berusaha bersaing dengan Matahari, Sogo,
dan Metro. Sayangnya, mereka tidak memiliki keunggulan yang mencolok baik dalam harga,
kualitas, maupun pengalaman berbelanja. Ketika pandemi mempercepat perubahan perilaku
konsumen ke e-commerce, Centro tidak mampu bertahan dan akhirnya bangkrut pada tahun 2021 (https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5572765/perjalanan-centro-tutup-
gerai-hingga-dinyatakan )
7-Eleven masuk ke Indonesia dengan konsep convenience store yang juga menawarkan
tempat nongkrong. Namun, mereka tidak memiliki diferensiasi kuat dibanding minimarket
seperti Indomaret dan Alfamart yang menawarkan harga lebih kompetitif dan lokasi lebih
luas. Ketika peraturan melarang penjualan minuman beralkohol di minimarket, pendapatan
mereka turun drastis karena pelanggan kehilangan alasan utama untuk datang. Akhirnya, 7-
Eleven menutup seluruh gerainya di Indonesia pada 2017. {https://www.bbc.com/indonesia/majalah-40428697)
Banyak perusahaan gagal bertahan karena tidak memiliki keunikan yang jelas dalam produk,
layanan, atau strategi pemasaran. Tanpa Keunikan yang kuat, mereka menjadi mudah
tergantikan oleh pesaing yang lebih inovatif dan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar
Selanjutnya faktor Keempat yang banyak menyebabkan Perusahaan gagal dalam
mengembangkan/ mempertahankan bisnisnya adalah KONSISTENSI. Konsisten untuk
melaksanakan fokus terhadap proses bisnis baik produk yang berkualitas, konsumen dan
keunikan yang dimiliki, merupakan hal yang wajib dilaksanakan. Konsistensi melaksanakan
fokus merupakan hal yang terpenting dalam mengembangkan/ mempertahankan bisnis yang
berkelanjutan.
IM2, anak usaha Indosat, dulunya merupakan penyedia internet broadband yang cukup
populer di awal 2000-an. Namun, mereka mengalami masalah hukum terkait penggunaan
frekuensi 3G yang membuat operasionalnya terganggu. Selain itu, IM2 tidak konsisten dalam
inovasi layanan dan kalah bersaing dengan penyedia internet lain seperti Telkom IndiHome
dan First Media. Akhirnya, IM2 menghentikan layanan dan resmi tutup pada 2021.
(https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20211215092418-92-734227/indosat-im2-resmi-
dibubarkan#:~:text=%22Dapat%20kami%20sampaikan%20bahwa%20para,Jumat%20(10%2
F12).
Matahari Department Store sempat agresif membuka gerai di berbagai lokasi, tetapi tidak
semua memiliki pasar yang sesuai. Beberapa gerainya ditutup karena manajemen tidak
konsisten dalam memilih lokasi strategis dan menyesuaikan konsep dengan kebutuhan
pelanggan setempat. Akibatnya, mereka terpaksa menutup banyak gerai dan fokus pada toko
yang lebih potensial. (https://www.tempo.co/ekonomi/ramai-dikabarkan-matahari-kembali-
tutup-gerai-apa-yang-sebenarnya-terjadi–43771)
Blitz Megaplex hadir sebagai pesaing Cinema 21 dengan konsep bioskop premium dan
variasi film yang lebih luas. Namun, mereka tidak konsisten dalam strategi ekspansi dan
kehilangan momentum di tengah persaingan yang semakin ketat. Setelah diakuisisi oleh CJ
CGV, mereknya diubah menjadi CGV Cinemas, menandakan kegagalannya dalam
mempertahankan identitas bisnisnya sendiri.
(https://market.bisnis.com/read/20150810/192/461153/bioskop-blitz-megaplex-berganti-
nama-jadi-cgv-blitz)
Ketidakkonsistenan dalam pengelolaan bisnis, strategi ekspansi, hingga model operasional
menyebabkan banyak perusahaan sulit berkembang atau bahkan gulung tikar. Tanpa
komitmen yang kuat terhadap proses bisnis yang jelas dan berkelanjutan, perusahaan akan
kesulitan mempertahankan kepercayaan pelanggan dan daya saing di pasar.
Faktor terakhir yang banyak menyebabkan kegagalan Perusahaan dalam mengembangkan/
mempertahankan bisnisnya adalah tidak MENGETAHUI SIAPA KONSUMEN mereka.
Segmen, Target dan Positioning merupakan hal mendasar untuk mengetahui calon konsumen
kita yang akan menjadi target pemasaran. Setelah target pemasaran ditentukan, hal yang perlu
diketahui mengenai konsumen kita adalah keinginan dan kebutuhan mereka, serta daya beli
dan perilaku atau behavior konsumen tersebut.




