“Figur baik hati yang dicintai rakyat Palembang itu ditawan Belanda karena si penjajah tak senang dengan orang hebat, kecuali orang hebat buatan Belanda sendiri. Putra-putri, sanak saudara maupun ratusan ribu rakyat mendoakan agar Krama Jaya kembali dari tahanan di Karawang (Jawa)”, tulis Walter Murray Gibson.
Gelar Pangeran Kramo Jayo yang diberikan SMB II bukanlah gelar sembarangan. Pemilihan gelar dalam tradisi Palembang tentulah berdasarkan penilaian dan pengamatan atas prilakunya sehari-hari. Begitu pula gelar Kramo Jayo yang disandang oleh Raden Abdul Azim.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Krama berarti beradat; akhlak; sopan santun; basa basi. Sedangkan jaya berarti keberhasilan atau kemenangan. Maka, pangeran Krama Jaya dapat diartikan sebagai orang yang berprilaku baik, beradat dan berakhlak mulia.
Murray Gibson memang tidak menulis apakah upaya Tchoon Long dan kawankawan berhasil mengembalikan Kramo Jayo dari pengasingannya di Tangerang ke Palembang. Atau seperti dalam cerita yang tersebar, bahwa Kramo Jayo meninggal di Probolinggo atau versi lain menyebut Purbalingga dan kemudian mayatnya dibawa ke Palembang.
Terlepas dari hal tersebut, faktanya, Kramo Jayo adalah tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Palembang Darussalam yang tidak boleh terhapus dalam sejarah.
Salah satu penanda keberadaan hidupnya adalah makamnya yang berada di ungkonan atau Kawasan Kompleks Pemakaman Pangeran Kramajaya di kawasan Kelurahan 15 Ilir Palembang, Kecamatan Ilir Timur I Palembang.
Selain makam Kramo Jayo, ada juga makam isteri, guru spriritual, dan beberapa kerabatnya. Oleh karena itu, maka ODCB Kompleks Pemakaman Kramo Jayo ini perlu segera ditetapkan menjadi Cagar Budaya langkah penyelamatan kompleks pemakaman yang sudah terancam punah tersebut.
Palembang, 18 Februari 2025. (*)




