Diceritakan oleh Murray Gibson, saat dia menghadiri resepsi pernikahan anak perempuan seorang saudagar di Palembang bernama Oey Tsee Yang, dia bertemu Tchoon Long, yang duduk satu meja dengannya.
Tchoon Long adalah seorang laki-laki keturunan China, berusia paruh baya yang bertubuh tegap, rambut tebalnya tidak dikepang panjang seperti gaya Manchu namun digelung tinggi ke belakang. Tchoon Long yang sebelumnya terlihat murung kemudian mendekatinya dan bercerita tentang orang hebat dari Palembang, Ferdano Mantri (Perdana Menteri) Krama Jaya, Mantan wazir Sultan Badroodin (Mahmud Badruddin II) yang gagah berani melawan Belanda hingga tuannya tertangkap.
“Doa saja tak cukup,” kata, Gibson. “Maka ada sekitar ratusan ribu rupe (rupiah, pen.) disimpan di tangan yang aman, di Singapura. Uang itu akan dibayarkan kepada Tchoon Long yang akan berlayar dengan kapal bersama sejumlah lelaki pemberani guna membawa sang Ferdano Mantri kembali ke Palembang”.
Cerita mengharukan ini mengenai seorang tokoh hebat yang dicintai ratusan ribu orang, Melayu, Arab, dan Cina, bahu membahu mereka hendak membebaskan orang baik yang bernama Pangeran Krama Jaya.
Pangeran Krama Jaya digambarkan sebagai sosok yang dicintai rakyat, khususnya masyarakat Palembang dan Passumah (Pasemah). Badannya tinggi dan kuat, wajahnya bersih (terbuka/ramah) dan hatinya ‘putih’ (jujur).
Ia memberi makan 2000 orang (laki-laki, perempuan, maupun anak-anak) setiap harinya. Rakyat banyak memuji serta memujanya sebagai orang yang baik hati dan terkenal di laut barat hingga timur dan rakyat pulau Sumatera.




