Opini Kita

Bagaimana Puasanya? Catatan Hendry Ch Bangun

×

Bagaimana Puasanya? Catatan Hendry Ch Bangun

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch Bangun. (Ist)
Hendry Ch Bangun (Ist)

Semoga begitu pula sikap teman-teman yang masih muda, semangat menjalankan pekerjaan dan tugasnya dan yakin bahwa semua akan dapat dilalui dengan baik. Apalagi dalam suasana Ramadhan, semua cobaan haruslah dianggap sebagai peristiwa pendewasaan, pematangan, untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Tiada kenaikan pangkat tanpa ujian. *

Puasa sendiri sangat banyak aspeknya. Dari sisi fisikal, kita semua tahu dari berbagai artikel bahwa perut tidak terisi selama 14 jam akan mengistirahatkan beberapa fungsi di lambung setelah bekerja selama 11 bulan penuh.

Penelitian juga menunjukkan di jam ke-13 perut lapar, sel-sel baik akan memakan sel-sel buruk, bayangkan kalau berlangsung 30 hari maka ada berapa ribu sel buruk yang musnah dari tubuh kita. Tinggal sel-sel baik itu kan mereparasi bagian tubuh yang sakit atau hampir sakit sehingga kembali sehat.

Dari sisi sosiologis, kita yang berpuasa juga bisa menghayati bagaimana penderitaan mereka yang tidak makan karena tidak mampu, menjadi lebih berempati, dan berujung dengan keinginan untuk bersedekah atau memberi bantuan.

Kita lebih memperhatikan lingkungan karena sangat tidak nyaman kita hidup nyaman serba cukup sementara tetangga untuk makan sederhana saja tidak bisa. Selain bersifat charity, bisa jadi kita tergerak untuk memberikan pancing, berupa kesempatan kerja atau memberi ide pembentukan usaha rumahan.

Perut lapar tidak bisa menunggu, begitu kata pepatah. Kita sadar bahwa orang yang kelaparan bisa jadi melakukan tindakan negatif untuk mengisi perut, maka memberi pancing atau untuk sementara memberi ikan, setidaknya mengurangi potensi kea rah sana.

Satu hal yang sering didengung-dengungkan penceramah agama adalah pahala di bulan puasa menjadi berlipat di hari biasa. Nilai Rp 50.000 yang Anda sumbangkan ke panti asuhan di hari biasa menjadi minimal menjadi Rp 500.000 tetapi bisa juga menjadi Rp 35.000.000 di bulan Ramadhan. Luar biasa kan?

Salat pun begitu. Bahkan salat sunnah nanti dihitung sebagai salat wajib. Tentu ini berlaku bagi mereka yang berpuasa, sehingga orang yang tahu akan melakukan banyak ibadah yang disukai Allah SWT, selain ibadah wajib.

Ya itulah mengapa Ramadhan dikatakan bulan istimewa. Dia menjadi tempat manusia untuk mendapatkan bonus dari Sang Pencipta. Pahala sehabis Ramadhan akan bertambah, minimal untuk mengimbangi kesalahan dan dosa yang dia lakukan di 11 bulan lainnya, karena semua yang baik dinilai berlipat-lipat dibanding hari biasa.

Apalagi seorang yang beruntung mendapat anugerah malam Lailatul Qadr yang setara dengan 1000 bulan, maka tumpukan pahalanya sudah bergunung-gunung. Maka orang yang berakal akan heran kepada orang yang lalai berpuasa dengan alasan apapun, kecuali kondisi kesehatannya benar-benar tidak memungkinkan.

Ada bulan bonus kok tidak dimanfaatkan. Bagi orang Islam, setiap tindakan dapat menjadi pahala. Senyum, dapat pahala. Menyingkirkan kotoran ke tempat sampah, dapat pahala. Mengucapkan salam terlebih dahulu, mendapat pahala. Memandang langit dan mengagumi keindahan ciptaanNya dapat pahala.

Berdzikir dapat pahala. Bahagia melihat orang senang, dapat pahala. Membuat orang senang, dapat pahala. Nah ini semua juga berlipat ganda di bulan Ramadhan. Kok tidak dimanfaatkan fasilitas yang sudah disediakan Allah? *

Maka banyak yang menyesal ketika bulan Ramadhan akan berakhir dan dia merasa belum secara total melakukan hal baik. Salat sunnah kurang banyak. Sedekah kurang banyak. Bersyukur kurang banyak. Oleh karena itu doa yang dianjurkan di hari terakhir puasa adalah meminta agar diberi panjang umur dan kesempatan untuk bertemu Ramadhan lagi tahun depan. Kita tidak tahu apakah masih diberi waktu atau tidak.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *