Opini Kita

Bagaimana Puasanya? Catatan Hendry Ch Bangun

×

Bagaimana Puasanya? Catatan Hendry Ch Bangun

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch Bangun. (Ist)
Hendry Ch Bangun (Ist)

Kalau dulu sekali, masyarakat masih banyak yang menunggu adzan magrib sampai menonton siaran televisi, sekarang cenderung berkurang. Kemajuan teknologi informasi membuat publik dapat dengan mudah mengakses waktu berbuka puasa melalui telpon selulernya, selain tentu kalau memasang alarm di berbagai aplikasi. Menikmati hiburan religius, ceramah agama, pengajian lewat ponsel juga menjadi kecenderungan baru.

Saya pernah merasakan bertahun-tahun berbuka puasa di tengah kemacetan lalu lintas sepulang dari kantor. Bertolak dari Olimo, Mangga Besar, pukul 17.00 adzan selalu terdengar ketika mobil masih berada di Jalan Sudirman, biasanya dekat Hotel Sahid atau menjelang Semanggi. Buka dengan air putih dan jajanan ringan yang sudah disiapkan dari kantor.

Waktu itu juga belum ada KRL, yang ada adalah kereta Odong-Odong, istilah masyarakat, yang gerbongnya sering tidak dapat menampung penumpang. Dan di dalamnya ada pedagang aneka barang dan rombongan pengamen yang selalu mendesak ketika ingin lewan.

Naik kereta juga tidak praktis karena harus terlebih dulu ke Stasiun Tanah Abang menuju Sudimara. Kalau naik bus Mayasari Bhakti jurusan Kota-Ciputat, biasanya susah dapat bangku. Lagipula sering banyak pencopet dan membawa perasaan kurang aman.

Waktu itu jalur saya adalah Jalan Hayam Wuruk, Medan Merdeka Barat, Jalan Thamrin, Sudirman, Pakubowono, Gandaria, Iskandar Muda, Tanah Kusir, Jalan Veteran, Rempoa, Ciputat. Belum ada jalan tol JORR yang membuat ada pilihan via Tomang atau via Ciledug. Waktu perjalanan kadang mencapai 2 jam 30 menit.

Selama 13 tahun melakoni pekerjaan dari Kawasan Kota, awalnya terasa berat, lama-lama biasa juga. Ketika kemudian kembali berkantor di Palmerah, terasa sekali banyak kenikmatan karena jarak ke rumah menjadi lebih dekat. Apalagi kemudian manajemen KRL bertambah maju, jumlah KRL makin banyak, bersih, aman, dan KRL menjadi alat transportasi utama dari rumah ke kantor.

Mengingat tahun-tahun penuh dinamika itu membuat saya bersyukur bahwa semua dapat dilewati dengan baik, malah seperti tidak ingat lagi berbagai tantangan dan kesulitan yang dialami. Ya, umur masih muda, stok tenaga masih kuat, pikiran masih selalu positif dan penuh semangat, seperti tidak ada hambatan yang tidak bisa diatasi.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *