Opini Kita

Apakah Program Wajib Belajar 12 Tahun Masih Relevan dalam Upaya Mencapai Target Indonesia Emas 2045 ?

×

Apakah Program Wajib Belajar 12 Tahun Masih Relevan dalam Upaya Mencapai Target Indonesia Emas 2045 ?

Sebarkan artikel ini

Pemerintah saat ini mempunyai mimpi besar untuk memanfaatkan bonus demografi dengan mencanangkan Indonesia Emas 2045. Mimpi besar tersebut bisa jadi hanya sebatas mimpi jika kondisi sumber daya manusia kita tidak mampu bersaing dengan SDM negara lain. Adanya isu terkait dengan biaya pendidikan tinggi yang sangat mahal merupakan tantangan yang cukup besar untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah program wajib belajar 12 tahun yang dikembangkan dari program wajib belajar 9 tahun oleh pemerintah masih relevan dan cukup untuk mencapai target Indonesia Emas 2045 ??? Dimana data peringkat daya saing Indonesia khususnya dibidang pendidikan hanya menempati peringkat ke-57 ???

Untuk itu diperlukan terobosan-terobosan dalam sistim pendidikan Nasional Indonesia khususnya kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan tata Kelola pendidikan, dari pendidikan
dasar sampai pendidikan tinggi yang berkesinambungan.
Program wajib belajar 12 tahun sebaiknya diselaraskan karena sudah tidak relevan dengan
kebutuhan dan kondisi persaingan yang sangat tinggi akibat adanya kemajuan teknologi yang

cepat menuntut sumber daya manusia yang tidak hanya mempunyai kompetensi hardskill
akan tetapi juga harus mempunyai kompetensi softskill.
Tentu saja, tanpa mengecilkan kemampuan sumber daya manusia yang hanya lulus di jenjang
pendidikan menengah dengan kompetensi hardskill yang tinggi, maka sangat diperlukan
peningkatan pendidikan lanjutan yang lebih tinggi agar sumber daya manusia Indonesia
mampu bersaing di level Internasional. Berdasarkan hal tersebut, sudah sepantasnya
pemerintah merubah program wajib belajar 12 tahun menjadi program wajib belajar 16 tahun
dimana pemerintah sebagai penanggung jawab pelaksanaan Amanah pembukan UUD 1945
dan pasal 31 ayat 1 dalam UUD 1945.

Baca Juga  Carpon 'Surat ti Palmira' (2022): Antara Masa Lalu dan Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *