Opini Kita

Andai Bank BRI Jadi Bank Koperasi Seperti Desjardins Bank

×

Andai Bank BRI Jadi Bank Koperasi Seperti Desjardins Bank

Sebarkan artikel ini
suroto 1
Ketua AKSES, Suroto. (Foto: Ist)

Akibatnya, rakyat Indonesia semakin digiring masuk ke sistem keuangan kapitalis secara monokultur yang menjadikan mereka hanya sebagai nasabah seumur hidup, bukan pemilik. Keuntungan bank tidak kembali kepada mereka; justru banyak yang terjerat utang konsumtif. Sistem ini akhirnya turut memperlebar jurang antara segelintir elite kaya dan mayoritas rakyat.

Di titik ini, pertanyaan kuncinya sederhana namun fundamental: Mengapa lembaga sebesar BRI tidak dikembalikan saja kepada rakyatnya sendiri?

BRI masih dikuasai pemerintah melalui BPI Danantara. Artinya, peluang untuk melakukan rekonfigurasi institusional masih sangat terbuka. Andaikan pemerintah benar-benar ingin menyejahterakan rakyat, langkah paling progresif dan revolusioner adalah mengubah BRI menjadi bank koperasi—persis seperti Desjardins.

Bayangkan transformasinya: 70 juta warga negara Indonesia menjadi pemilik sah BRI. Bukan sekadar pemilik nomor rekening, tetapi menjadi pemilik bank dengan hak suara. Keuntungan bank triliunan rupiah tiap tahun mengalir kembali ke kantong rakyat. Kebijakan kredit dan program pemberdayaan ekonomi diputuskan oleh rakyat sendiri.

Setiap kantor cabang menjadi ruang demokrasi ekonomi lokal. BRI tidak lagi menjadi mesin akumulasi untuk investor asing atau elite pemegang saham, tetapi menjadi mesin kesejahteraan untuk rakyat Indonesia.

Kakek Presiden Prabowo, Margono Djojohadikusumo, menyebut De Wolff sebagai Bapak Perintis Koperasi Indonesia. Ia sendiri merupakan salah satu kurator atau dewan penyantun Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (Credit Union) tahun 1970 an bersama tokoh lainya seperti Mochtar Lubis, Ibnoe Soedjono, Pater Albrecht Kariem Arbie, Fuad Hasan yang hingga kini terbukti sukses karena tetap dimiliki nasabahnya. Maka, gagasan penyerahan kepemilikan BRI kepada rakyat bukanlah lompatan liar, justru  sebagai upaya mengembalikanya ke akar sejarah yang pernah dirintis oleh para pendiri bangsa.

Oleh karena itu saya membayangkan, andaikan  Presiden Prabowo mau melanjutkan pemikiran Kakeknya, dan berani melakukan penyerahan (imbreng) asset BRI sebagaimana para pemimpin sebelumnya berani menyerahkan BUMN strategis kepada elite kaya melalui privatisasi, maka kebijakan itu akan mengguncang republik ini, bahkan mengguncang dunia. Sebuah langkah yang tidak hanya memulihkan martabat rakyat, tetapi mengubah struktur ekonomi Indonesia secara mendasar. Mungkinkah? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *