KITAINDONESIASATU.COM – Penjabat (Pj.) Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, memberikan tanggapan atas pernyataan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar terkait penyebab bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Sukabumi pada Rabu (4/12/2024).
Walhi menyebut bahwa aktivitas penambangan yang marak menjadi salah satu pemicu utama terjadinya bencana di wilayah tersebut.
Bey menyatakan bahwa dugaan tambang sebagai penyebab utama bencana memerlukan kajian dan penelitian mendalam dengan melibatkan kementerian terkait.
“Kajian terkait penambangan perlu mencakup analisis perizinan dan dampaknya terhadap lingkungan,” ujar Bey, seperti ditulis Republika.co.id pada Senin (16/12/2024).
Menurut Bey, aktivitas tambang tidak hanya terjadi di Sukabumi tetapi juga di berbagai wilayah lain di Jawa Barat.
Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap perizinan tambang menjadi penting. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tegasnya, akan bertindak jika ditemukan pelanggaran dalam aktivitas tambang, termasuk pencabutan izin bagi perusahaan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan.
Sementara itu, Bupati Sukabumi, Marwan Hamami, menjelaskan bahwa banyak faktor yang saling terkait dalam memicu bencana di wilayah ini, termasuk dampak dari aktivitas pertambangan.
“Setiap faktor akan dicermati dan dievaluasi sebagai dasar pengambilan keputusan, termasuk rekomendasi izin tambang ke pemerintah provinsi dan kementerian terkait,” katanya.
Tim investigasi Walhi menemukan bahwa banjir bandang dan tanah longsor di Sukabumi, yang terjadi pada 3 dan 4 Desember 2024, dipengaruhi oleh degradasi kawasan hutan di Gunung Guha, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah.
Selain itu, kerusakan hutan akibat tambang emas dan galian kuarsa untuk bahan baku semen juga ditemukan di lokasi lain.- ***



