KITAINDONESIASATU.COM – Universitas Indonesia (UI) menggelar acara Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) Pascasarjana pada 23 Agustus 2025 dengan menghadirkan tiga pembicara. Salah satunya adalah Peter Berkowitz yang langsung menjadi sorotan publik karena rekam jejaknya. Ia diketahui menulis sejumlah artikel yang memperlihatkan dukungan terhadap genosida di Palestina.
“Berkowitz telah menulis sejumlah artikel yang mendukung genosida di Palestina serta seorang Direktur Perencanaan Kebijakan Trump,” tulis akun Twitter @kastratofe.
Dalam forum tersebut, Berkowitz membawakan materi berjudul Pendidikan untuk Kebebasan dan Demokrasi.
Namun, topik itu dinilai bertolak belakang dengan tulisan-tulisannya yang justru mengecam universitas dan mahasiswa yang mengkritik serangan Israel ke Palestina.
Cuitan terkait kehadirannya pun viral, dengan jumlah tayangan mencapai 1,8 juta. Gelombang kritik dialamatkan kepada UI karena menghadirkan sosok pro-zionis sebagai pembicara.
Merespons polemik ini, pihak UI menyatakan bahwa undangan terhadap Berkowitz hanya bertujuan memberi perspektif akademisi dari institusi terkemuka dunia di bidang Sosial Humaniora maupun STEM.
UI juga menyampaikan permintaan maaf karena lalai meneliti rekam jejaknya hingga menimbulkan kegaduhan.
Belakangan terungkap, sebelum hadir di UI, Berkowitz juga menjadi pembicara dalam seminar yang digelar Nahdlatul Ulama (NU) bertajuk Sejarah Pemikiran Politik Barat pada 15–16 Agustus 2025. Acara tersebut diikuti 25 pengurus NU. Ia bahkan menuliskan pengalamannya dalam artikel berjudul Teaching Western Political Thought in Indonesia di laman Real Clear Politics.
Kehadiran Berkowitz kembali menyeret NU dalam pusaran kontroversi. Sebelumnya, Ketua NU Yahya Cholil mendapat kritik atas kunjungannya ke Israel pada 2018. Lalu, pada 2024, lima pengurus NU juga sempat menemui Presiden Israel Isaac Herzog.


