News

Tragedi Siswa SD di Mojokerto Tewas Tertabrak Truk, Kesalahan Kolektif Orang Tua, Guru dan Masyarakat

×

Tragedi Siswa SD di Mojokerto Tewas Tertabrak Truk, Kesalahan Kolektif Orang Tua, Guru dan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Pelajar SD terlindas truk di jalan
Petugas saat mengevakuasi jenazah korban, dan polisi Kota Mojokerto saat melakukan olah tempat kejadian perkara, Rabu (23/7/2025) siang. foto: istimewa

KITAINDONESIASATU.COM – Kejadian anak Sekolah Dasar (SD) yang mengalami tabrakan dengan truk di jalan raya adalah tragedi yang memilukan dan mencerminkan banyak persoalan serius.

Peristiwa mengerikan ini terjadi di jalan simpang empat Sekarputih, Kota Mojokerto, Jawa Timur pada Rabu, 23 Juli 2025 siang sekitar pukul 13:00 WIB seorang anak bertabrakan dengan truk hingga meninggal dunia.

Korban adalah seorang siswa kelas 5 SDN Kedundung 3 Kota Mojokerto yang mengendarai sepeda pancal terlindas truk saat menyeberang jalan raya dalam perjalanan pulang sekolah.

Korban ditabrak truk S 8084 NI yang dikemudikan seorang pria berinisial Les (49) warga Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Menurut informasi yang diperoleh mengungkapkan kecelakaan terjadi ketika itu korban mengendarai sepeda pancal henda menyeberang jalan di perlintasan lampu merah simpang empat Sekarputih.

Ketika itu ada truk hendak berbelok ke arah Jalan Baypass Mojokerto tiba-tiba truk menabrak dan melindas seorang bocah pengendarai sepeda pancal.

Kasat Lantas Polres Mojokerto Kota, AKP Galih Yasir Mubaroq kepada wartawan menjelaskan saat itu korban sedang mengendarai sepeda ontel seorang diri.

Di tengah perjalanan di simpai empat Sekarputih tiba-tiba korban bertabrakan dengan truk hingga korban mengalami luka serius bagian dada dan kaki kanan.

Korban langsung dilarikan ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo namun nyawanya tidak tertolong, anak berusia 11 tahun harus menghembuskan nafas terakhirnya akibat luka parah yang dialaminya.

Seperti kita ketahui keselamatan anak-anak harus menjadi perhatian kita semua khususnya orang tua murid dan guru yang secara langsung mengawasi anak-anak saat mengendarai sepeda saat pulang sekolah.

Anak SD belum memiliki kemampuan motorik, kognitif, maupun emosional yang cukup untuk menghadapi situasi lalu lintas yang kompleks.

Jika mereka berkendara sendiri atau menyeberang tanpa pendampingan, risikonya sangat tinggi hingga terjadi kecelakaan dan meninggal dunia seperti dalam peristiwa di Kota Mojokerto.

Terjadinya kecelakaan ini menunjukkan bahwa pengawasan orang tua mungkin lemah atau kurang tepat atau pendidikan keselamatan lalu lintas untuk anak belum maksimal.

Undang-Undang Lalu Lintas Indonesia jelas melarang anak di bawah umur untuk mengemudi, jika anak tersebut mengendarai kendaraan merupakan pelanggaran hukum, namun ini jika mengendarai kendaraan bermotor.

Ini adalah pelanggaran hukum oleh orang tua/wali yang membiarkan anaknya berkendara, namun tidak dijelaskan secara spesifik yang mengatur pengendara sepeda pancal.

Jika itu terjadi bisa saja itu menimbulkan konsekuensi hukum dan moral bagi keluarga maupun pengendara lain (dalam hal ini, sopir truk).

Sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar juga punya peran, menjadi budaya membolehkan anak bawa motor ke sekolah dianggap biasa, padahal itu sangat berbahaya.

Perlunya kampanye keselamatan jalan untuk anak, sistem transportasi aman ke sekolah seperti antar-jemput atau rute aman pejalan kaki khususnya bagi anak-anak sekolah.

Kecelakaan ini bukan hanya soal nasib buruk, tapi cermin dari kita semua, merupakan kelalaian kolektif yakni orang tua, sekolah hingga masyarakat luas.

Kurangnya edukasi keselamatan jalan bagi anak, bisa saja infrastruktur yang belum ramah anak-anak menjadi pemicu terjadinya kecelakaan.

Nyawa anak adalah prioritas, tragedi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak agar tidak mengulangi kelalaian yang sama. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *