Menjelang tengah malam, ribuan wanita membawa obor menyala dan meniup kerang mulai berbaris melalui jalanan gelap di Benggala Barat.
Prosesi ini berlangsung pada dini hari Kamis, 15 Agustus 2024, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan India, sebagai bagian dari protes terhadap pemerkosaan dan pembunuhan brutal seorang dokter muda di sebuah rumah sakit di Kolkata, ibu kota negara bagian, yang terjadi minggu lalu.
Mereka berbaris sambil meneriakkan “Rebut kembali malam ini,” merujuk pada fakta bahwa dokter berusia 31 tahun tersebut diserang pada Jumat malam saat sedang beristirahat setelah shift panjang di rumah sakit pemerintah RG Kar.
Kemarahan yang tersebar luas di media sosial memicu aksi protes ini, yang kemudian berkembang menjadi gerakan protes terbesar yang pernah terjadi di negara tersebut.
Protes ini muncul bukan hanya karena penderitaan yang dialami dokter tersebut, tetapi juga sebagai simbol perjuangan sehari-hari perempuan India untuk hidup bebas.
Saat para pengunjuk rasa melewati rumah-rumah, kompleks perumahan, dan blok-blok apartemen, banyak orang yang keluar untuk bergabung, meskipun hujan turun. Teriakan mereka adalah seruan untuk keadilan, keselamatan, dan penghormatan terhadap perempuan.
Anupama Chakraborty, yang keluar bersama dua cucunya, mengatakan, kejadian ini mengguncang negara.
“Korban adalah seorang dokter yang sedang bertugas. Jika pemerintah tidak dapat menjamin keselamatan perempuan di institusi pemerintah, apa yang bisa diharapkan?” katanya.
Pada Senin lalu, ribuan dokter melakukan mogok kerja, mengganggu layanan pasien di seluruh India.
Mereka menuntut keadilan bagi korban dan meminta peningkatan keamanan di rumah sakit, seperti pengawasan lebih ketat, lebih banyak CCTV, dan penjaga keamanan.
Penyelidikan polisi mengungkapkan bahwa pelaku berusia 33 tahun yang ditangkap berhasil mengakses seluruh bagian rumah sakit meskipun hanya seorang calo ilegal.
Ketidakpercayaan terhadap penyelidikan polisi semakin meningkat setelah rumah sakit awalnya mengklaim bahwa korban telah bunuh diri.
Pengadilan Tinggi Kolkata kemudian menyerahkan kasus ini kepada Biro Investigasi Pusat.
Kematian dokter muda ini sekali lagi menyoroti kerentanan perempuan India terhadap kekerasan.
Ranjana Kumari, Direktur Pusat Penelitian Sosial, mengatakan, “Saya marah melihat ketidakpedulian ini, dan kenyataan bahwa ruangan tempat kejadian bahkan tidak memiliki CCTV. Tidak ada yang berubah sejak 2012”.- ***
Sumber: The Guardian


