Naasnya, salah satu bahan peledak terlambat meledak, menyebabkan korban jiwa di antara masyarakat yang tidak menyadari bahaya sisa material tersebut.
Salah satu narasumber menyebut bahwa keterlibatan warga bisa jadi disebabkan kurangnya pengamanan atau batasan akses selama proses disposal berlangsung.
Hal ini menjadi perhatian penting bagi aparat terkait dalam prosedur penanganan limbah militer di masa mendatang.
“Tim investigasi akan mendalami semua aspek, baik dari sisi teknis disposal, protokol keselamatan, hingga keterlibatan warga di lokasi,” tambah Kolonel Mahmudin.
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keamanan dalam pemusnahan amunisi dan peran edukasi kepada masyarakat sekitar wilayah militer.
Pemerintah daerah dan aparat juga diharapkan memberi pendampingan kepada keluarga korban serta melakukan evaluasi bersama untuk mencegah kejadian serupa terulang.***
