Dengan penggantian meter induk tersebut, Tirta Pakuan kini dapat membaca data aliran air dari hulu hingga reservoir secara real-time. Hal ini membantu perusahaan menghitung selisih debit masuk, debit produksi, dan debit distribusi ke pelanggan dengan lebih akurat.
Selain itu, pembangunan DMA juga menjadi strategi utama. DMA merupakan sistem pembagian wilayah distribusi air dalam cluster pelanggan untuk memudahkan pemantauan kebocoran dan konsumsi.
“Kami sudah membangun 42 titik DMA. Dengan itu kami bisa memantau secara real-time kepada cluster yang ditentukan. Kami bandingkan air masuk dan yang dipakai pelanggan. Hal itu yang kami lakukan dan bagian dari inovasi,” tambahnya.
Meski begitu, Ardani tidak menutup mata terhadap kendala besar lain, yakni masih adanya 90 kilometer pipa lama yang telah berusia lebih dari 50 tahun. Penggantian pipa ini membutuhkan investasi besar, namun tetap menjadi prioritas perusahaan ke depan.
“Kami komitmen memperbaiki pelayanan. Kepada masyarakat juga jangan bosan-bosan dalam menyampaikan informasi ataupun keluhan, khususnya kebocoran fisik, bisa melalui call center, aplikasi Simotip, atau melalui media sosial,” pungkas Ardani. (Nicko)


