Serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Jumat, 25 Oktober 2024, menewaskan tiga wartawan.
Sementara badan pengungsi PBB mengingatkan bahwa serangan udara di perbatasan dengan Suriah menghalangi pengungsi yang hendak menyelamatkan diri dari perang.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menegaskan perlunya solusi diplomatik yang mendesak. Sehari sebelumnya, ia menyatakan bahwa Washington tidak mendukung operasi berkepanjangan Israel di Lebanon.
Israel memulai operasi besar di Lebanon sekitar sebulan lalu, dengan tujuan menarget kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Konflik ini diawali oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan diikuti oleh serangan Israel di Gaza. Pihak Palestina menyebutkan bahwa serangan Israel di Khan Younis telah menewaskan sedikitnya 38 orang sejak Kamis malam. Otoritas di Beirut melaporkan lebih dari 2.500 warga Lebanon tewas dan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi, menciptakan krisis kemanusiaan.
Wartawan yang tewas dalam serangan di Lebanon selatan termasuk Ghassan Najjar dan Mohamed Reda dari Al-Mayadeen, serta Wissam Qassem dari Al-Manar milik Hizbullah.
Mereka tengah berada di wisma tamu di Hasbaya, yang sebelumnya belum pernah diserang. Kementerian Informasi Lebanon mengecam serangan tersebut sebagai “kejahatan perang.”
Israel melanjutkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon dan juga mengerahkan pasukan darat ke Lebanon selatan. UNHCR melaporkan bahwa sekitar 430.000 pengungsi telah melarikan diri ke Suriah sejak awal operasi Israel.
Blinken menyampaikan urgensi untuk mencapai resolusi diplomatik dan mendorong implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 demi keamanan perbatasan Israel-Lebanon.
Dalam pertempuran yang berlangsung, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah juga dikabarkan tewas. Pasukan Israel juga melaporkan menemukan pusat komando bawah tanah Hizbullah dan menyita berbagai senjata.- ***
Sumber: Reuters

