“Ini memberikan tekanan yang luar biasa pada perencanaan tata ruang, terutama terkait pembangunan infrastruktur dan ruang publik,” kata Ernan.
Ia menyoroti permasalahan utama dalam pembangunan perkotaan, yaitu ketidakproporsionalan alokasi pembiayaan pembangunan di wilayah tertentu, serta ketergantungan yang terlalu besar pada pinjaman lunak.
“Ke depannya, kita tidak bisa lagi mengandalkan sumber pendanaan ini. Dibutuhkan solusi yang lebih inovatif,” tegasnya.
Diskusi ini, menurut Prof. Ernan, memberikan ruang bagi para ahli untuk menyampaikan berbagai ide dan gagasan. “Alhamdulillah, banyak masukan yang kami terima, mulai dari masalah tata ruang hingga solusinya. Kami mencatat banyak gagasan yang bisa menjadi landasan untuk perencanaan ke depan,” ujar Ernan.
Selain itu, diskusi ini juga menghasilkan konsep-konsep pengembangan tata ruang perkotaan yang siap menghadapi perubahan teknologi dan sistem informasi.
“Kami juga berencana menyusun rekomendasi untuk sistem tata ruang yang lebih adaptif, termasuk di dalamnya aspek kelembagaan perkotaan. Salah satu hasil penting dari diskusi ini adalah perencanaan penulisan buku yang ditujukan untuk masyarakat umum dan para pengambil kebijakan, agar semua pihak bisa memahami kompleksitas masalah ini secara lebih mendalam,” tutupnya. (Nicko)


