Ia menegaskan, pola penanganan tidak bisa lagi bersifat reaktif maupun parsial. Aparat kepolisian dituntut membangun strategi adaptif berbasis pemahaman mendalam terhadap ekosistem digital yang terus berkembang.
Sementara itu, Kasespim Polri Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga menilai NASTRAP terbaik yang dihasilkan peserta mencerminkan transformasi pola pikir kepemimpinan di lingkungan Polri.
Menurutnya, kompleksitas ancaman saat ini jauh lebih disruptif dibandingkan masa lalu. Karena itu, calon pimpinan Polri masa depan dituntut memiliki sensitivitas tinggi terhadap dinamika ancaman global berbasis digital.
Pendidikan Sespimti Polri Dikreg ke-34 sendiri diikuti ratusan peserta dari berbagai program pendidikan kepemimpinan.
Gagasan strategis yang disampaikan Arsal Sahban diharapkan menjadi pijakan penting bagi institusi kepolisian dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di era teknologi yang terus bergerak cepat.***
