KITAINDONESIASATU.COM– Meningkatnya jumlah siswa yang mundur dari program Sekolah Rakyat memantik keprihatinan dari kalangan akademisi. Bukan semata soal teknis, gejala ini dinilai mencerminkan absennya pendekatan sosial budaya yang memadai dalam perencanaan dan pelaksanaan program pendidikan tersebut.
Pakar sosiologi pedesaan dan pengembangan masyarakat dari IPB University, Prof Lala M Kolopaking, menilai bahwa kegagalan mempertahankan siswa seharusnya menjadi alarm untuk meninjau ulang cara program ini dirancang. Ia menekankan perlunya pelibatan masyarakat secara partisipatif sejak tahap awal.
“Program Sekolah Rakyat itu tujuannya sangat baik, ingin membantu masyarakat yang kurang mampu. Akan tetapi mestinya ada pemetaan sosial budaya terlebih dahulu, agar program ini menyentuh kebutuhan dan karakter masyarakat setempat,” ujar Prof Lala, dalam keterangan tertulis, Jumat 8 Agustus 2025.
Guru Besar Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University itu menegaskan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai subjek utama, bukan sekadar objek penerima manfaat.
“Ini sinyal bahwa membuat program yang baik itu tidak cukup hanya dengan niat, tapi harus dialokasikan pada masyarakat sekitar dengan pendekatan dialog. Jadi ada dialog yang dibangun, sehingga mereka paham,” ungkapnya.
Menurutnya, ketidaknyamanan yang dialami siswa kemungkinan besar disebabkan oleh ketiadaan pendekatan partisipatif yang relevan. “Kalau katanya tidak betah, boleh jadi orang yang sekolah di situ memang jauh dari budaya lokal. Bisa jadi mereka mengalami homesick,” jelasnya. (Nicko)


