News

Remaja 14 Tahun Bunuh Ayah dan Nenek, Diduga Alami Gangguan Psikologis

×

Remaja 14 Tahun Bunuh Ayah dan Nenek, Diduga Alami Gangguan Psikologis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pembunuhan. (Ist)
Ilustrasi pembunuhan. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Seorang remaja berinisial MAS (14 tahun) diduga membunuh ayahnya, APW (40), dan neneknya, RM (69), di rumah mereka di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Menurut hasil pemeriksaan awal, MAS mengaku mendengar bisikan yang mendorong tindakannya.

Prof. Rose Mini Agoes Salim, psikolog dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa halusinasi bisa memengaruhi perilaku seseorang.

“Halusinasi adalah persepsi terhadap sesuatu yang tidak nyata, tetapi bisa memengaruhi cara berpikir seseorang” kata Prof Rose, seperti ditulis Republika.co.id pada Selasa, 3 November 2024.

Menurut Prof. Rose, berbagai faktor dapat memicu halusinasi, termasuk gangguan psikologis, stres, depresi, atau demam tinggi.

Baca Juga  Bertemu Jokowi dan Bicara 4 Mata, Tutup Rangkaian Kunjungan Kerja Presiden Prabowo Subianto

Ia mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.
Jika anak yang biasanya ceria menjadi pendiam, mudah marah, atau sering menyendiri, hal tersebut perlu ditangani dengan pendekatan penuh kasih.

Prof. Rose menjelaskan bahwa orang tua sebaiknya memperhatikan kebiasaan anak mereka.

Jika anak yang biasanya suka bersosialisasi tiba-tiba berubah, orang tua harus serius menyikapi perubahan tersebut dan bertanya dengan bijak untuk membantu menemukan penyebabnya.

MAS dikenal sebagai anak pintar dan berperilaku baik, namun belakangan nilai akademiknya menurun. Ada dugaan bahwa tekanan mental menjadi salah satu faktor pemicu tindakan tersebut, meski belum ada konfirmasi resmi dari kepolisian.

Baca Juga  Terlantarkan Adiknya Jadi Motif Kakak Ipar Bunuh Pria di Jakarta Pusat

Prof. Rose menekankan pentingnya orang tua untuk tidak terlalu menekan anak agar sukses secara akademik.

Menurutnya, pencapaian anak tidak hanya diukur dari nilai sekolah, tetapi juga dari bakat atau kemampuan lain, seperti seni dan olahraga.

Orang tua diimbau untuk lebih memahami potensi anak tanpa memberikan tekanan berlebihan yang bisa berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *