Di dalamnya juga terdapat tetesan logam mengkristal—chondrules—yang menjadi petunjuk penting tentang awal pembentukan tata surya.
Ahli geologi Dermot Henry dari Museum Melbourne mengatakan kepada Sydney Morning Herald: “Kalau Anda mengambil batu seperti ini di tanah, seharusnya tidak seberat itu. Lapisan kulit luarnya terbentuk saat meteorit meleleh ketika memasuki atmosfer.”
Para ilmuwan menyebut meteorit sebagai cara termurah untuk mempelajari ruang angkasa. Mereka memuat informasi soal usia tata surya dan bahkan sumber kehidupan, karena beberapa meteorit membawa molekul organik seperti asam amino.
Diperkirakan meteorit itu berasal dari sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter sebelum tabrakan membuatnya meluncur ke arah Bumi.
Radiokarbon menunjukkan bahwa benda tersebut jatuh ke Bumi antara 100 hingga 1.000 tahun lalu, kemungkinan terkait fenomena cahaya langit yang tercatat pada periode 1889–1951.
Penemuan ini sangat langka karena hanya ada 17 meteorit yang pernah ditemukan di negara bagian Victoria, dan batu ini merupakan massa chondrite terbesar kedua setelah temuan seberat 55 kilogram pada 2003.

