Menurut Kementerian Pertanian, burung hantu dapat menurunkan angka serangan tikus hingga 5% pada tanaman muda.
Di beberapa daerah seperti Blitar, metode ini telah terbukti berhasil.
Kelompok Tani Makmur di Desa Sukorejo, misalnya, menggunakan rumah burung hantu (rubuha) yang efektif mengurangi jumlah tikus di sawah mereka.
Selain itu, biaya pengadaan burung hantu dan rubuha relatif murah, sekitar Rp 6,5 juta per unit, menjadikannya investasi jangka panjang yang hemat bagi petani.
Tanggapan Pakar dan Tantangan
Meski penggunaan burung hantu dianggap efektif di beberapa daerah, sejumlah pakar mempertanyakan keefektifannya untuk skala besar.
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof Witjaksono misalnya menyebutkan bahwa keberhasilan metode ini bergantung pada kondisi ekologi setempat dan perlu penelitian lebih lanjut.
“Di beberapa tempat seperti Demak memang berhasil, tetapi tidak semua daerah cocok menggunakan burung hantu,” ujarnya.
Selain itu, pengendalian hama tikus tidak bisa hanya mengandalkan satu metode.



