KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Prabowo Subianto mengakui bahwa komunikasi publik pemerintahannya belum optimal dalam 150 hari masa kerjanya. Hal ini ia sampaikan dalam pertemuan dengan jurnalis di Hambalang, Bogor pada 8 April 2025.
“Saya akui bahwa 150 hari saya sendiri menurut pendapat saya, saya yang bertanggung jawab, saya yang salah sebetulnya,” kata Prabowo.
Menurutnya, fokus utama selama ini adalah bekerja cepat memenuhi kebutuhan rakyat, sehingga aspek komunikasi publik kurang diperhatikan.
Prabowo menilai kurangnya pelibatan media menjadi salah satu faktor lemahnya persepsi publik terhadap kerja pemerintah.
Ia mencontohkan kekeliruan komunikasi Kepala Kantor Komunikasi Presiden, Hasan Nasbi, dalam menanggapi kasus teror terhadap jurnalis Tempo, sebagai bentuk ketidaksiapan dalam peran komunikasi publik.
Meski begitu, Prabowo juga menyebut adanya pihak-pihak yang terus menyebarkan narasi negatif terhadap pemerintah.
Namun, ia berkomitmen untuk memperbaiki strategi komunikasi agar kinerja pemerintah bisa lebih dipahami masyarakat.
Selain dalam diskusi dengan Pemred media nasional. Prabowo juga mengakui hal ini dalam forum ekonomi.
“Saya kemarin saya sadar beberapa Minggu lalu sudah mulai sadar bahwa komunikasi dari pemerintah yang saya pimpin memang agak kurang, dan itu adalah tanggung jawab saya,” ujar Prabowo dalam acara Sarasehan Ekonomi, Selasa, 8 April 2025.
Prabowo pun mengaku sengaja menggelar kegiatan Sarasehan Ekonomi ini. Ia berharap forum ini jadi upaya pemerintah proaktif menyikapi situasi terkini, dalam hal ini persoalan ekonomi.
“Saya minta acara ini diselenggarakan karena saya merasa setelah kita masuki 6 bulan masa bekerjanya, pemerintah yang saya pimpin sebagai pemegang mandat dari bangsa, dari rakyat sejak tanggal 20 Oktober 2024, sudah saatnya kita lebih komunikatif, lebih proaktif dalam memberi keterangan tentang keadaan yang berlaku,” jelasnya.
Prabowo membantah tudingan bahwa dirinya minim aksi dalam merespons situasi terkini. Ia beralasan bahwa dirinya menganut prinsip kinerja yang berbasis pada bukti.
Ia menyatakan bahwa dirinya menganut filosofi evidence-based performance, sehingga enggan memberikan pernyataan tanpa didukung oleh bukti nyata. Menurutnya, itulah sifat yang selama ini ia pegang.
Komunikasi publik di bawah pemerintahan Prabowo kerap menimbulkan polemik. Salah satu kasus yang masih menjadi perhatian publik adalah insiden teror berupa pengiriman bangkai hewan ke kantor media Tempo.
Respons Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi, menjadi sorotan setelah menyarankan agar kepala babi yang dikirim ke kantor Tempo dimasak saja. Ia kemudian mengklaim bahwa pernyataannya tersebut mengikuti gaya para jurnalis Tempo yang dinilainya menyikapi teror itu dengan santai.
