Dalam menjalankan tugasnya, Polri mengedepankan pendekatan humanis melalui komunikasi dan koordinasi dengan penyelenggara aksi. Pengaturan lalu lintas serta langkah pencegahan terhadap potensi gangguan keamanan juga menjadi bagian dari upaya menjaga situasi tetap terkendali.
Menurut Isir, upaya pengamanan tersebut harus tetap memperhatikan hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat. Pada saat bersamaan, kegiatan publik lainnya diharapkan dapat berlangsung tanpa gangguan yang tidak perlu.
“Polisi hadir bukan untuk menghalangi masyarakat menyampaikan pendapat, melainkan untuk memberikan pelayanan dan memastikan hak tersebut dapat dijalankan dengan baik. Kami mengajak peserta aksi, petugas di lapangan, dan seluruh elemen masyarakat untuk saling menghormati, menjaga komunikasi, serta bersama-sama menciptakan situasi yang aman dan kondusif,” katanya.
Masyarakat Diminta Tidak Terprovokasi Informasi yang Belum Terverifikasi
Lebih lanjut, Isir mengingatkan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya tugas kepolisian. Partisipasi masyarakat juga diperlukan agar penyampaian aspirasi tidak berkembang menjadi konflik atau memicu gangguan di ruang publik.
Ia menilai, sikap saling menghargai, kepatuhan terhadap hukum, dan kemampuan menahan diri dari tindakan provokatif menjadi faktor penting untuk mencegah kesalahpahaman selama aksi berlangsung.
Polri juga mengimbau masyarakat agar lebih cermat menyikapi informasi yang beredar, khususnya di media sosial. Setiap kabar sebaiknya diperiksa kebenarannya sebelum dibagikan, terutama jika informasi tersebut berpotensi menimbulkan keresahan atau memancing ketegangan.





