KITAINDONESIASATU.COM– Harga daging ayam di pasar yang terus melonjak bukan hanya disebabkan oleh naiknya permintaan atau distribusi yang tersendat. Salah satu faktor utama yang selama ini luput dari perhatian adalah mahalnya harga jagung, bahan baku utama dalam pakan unggas. Kenaikan harga jagung secara langsung mendorong tingginya biaya produksi ayam, yang pada akhirnya membebani konsumen di tingkat akhir.
Situasi inilah yang mendorong Dr Heri Ahmad Sukria, dosen Fakultas Peternakan IPB University, mengembangkan sebuah terobosan berupa “jagung analog” bahan pakan alternatif yang dibuat dari sumber lokal non-jagung namun memiliki kandungan gizi serupa. Inovasi ini disebut-sebut sebagai solusi potensial untuk mengurangi ketergantungan terhadap jagung sekaligus menekan biaya produksi peternakan unggas.
“Sekitar 50 persen dari pakan unggas bersumber dari jagung. Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan jagung nasional dari produksi dalam negeri dan saat ini sudah tidak boleh impor,” ujar Heri, Sabtu 6 September 2025.
Menurutnya, kondisi ini menyebabkan harga jagung terus merangkak naik. Harga terendah berada di kisaran Rp5.500, namun di luar musim panen bisa menembus Rp7.000 per kilogram, terutama di wilayah-wilayah terpencil atau kepulauan. “Hal ini berdampak langsung pada tingginya harga ransum ayam dan akhirnya harga ayam di pasar,” jelasnya.
Jagung analog yang dikembangkan Heri dibuat dari sagu parut dan singkong, dua komoditas lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai pakan ternak. Uji coba di laboratorium menunjukkan, ayam kampung yang diberi ransum berbasis jagung analog menunjukkan performa yang tidak kalah baiknya dibanding ayam yang diberi pakan konvensional berbasis jagung.
“Sagu bisa langsung dipanen dari tanaman sagu namun harus memperhatikan keseimbangan lingkungan kawasan tanaman sagu, sehingga sangat potensial sebagai pakan ternak sumber energi pengganti jagung,” ungkapnya.
Indonesia memiliki sekitar 5 juta hektare lahan sagu, mayoritas berada di Papua yang menyumbang hampir 99 persen dari total lahan sagu nasional. Sayangnya, pemanfaatan sagu sebagai bahan pangan maupun pakan ternak masih sangat rendah, yakni di bawah 5 persen.
Selain sagu, singkong juga menjadi kandidat kuat pengganti jagung. Komoditas ini dapat ditanam di banyak daerah seperti Lampung dan Jawa Barat. Namun tantangan terbesar adalah produktivitas yang masih rendah dan biaya produksi yang cukup tinggi.



