KITAINDONESIASATU.COM – Kasus penemuan koper merah berisi potongan tubuh di Desa Dadapan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Kamis (23/1/2025) membuat heboh warga Ngawi.
Belakangan diketahui merupakan korban mutilasi yang diidentifikasi dan diakui keluarganya seorang wanita bernama Uswantun Khasanah (29) warga Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.
Namun identitas wanita yang berada di dalam koper merah, yang ditemukan di Ngawi ini diketahui beridentitas warga Desa Bence, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.
Uswatun Khasanah diketahui seorang seorang janda cerai hidup dengan dua anak berusia 7 tahun dan 10 tahun yang berprofesi sebagai sales produk kosmetik di Tulungagung.
Selama ini Uswatun tinggal dan ngekos di Tulungagung, sementara kedua anaknya diasuh oleh seorang kerabatnya di Blitar, Ana Yuliani.
Selama ini Uswatun bekerja keras untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil dalam pengasuhan kerabatnya di Blitar, sementara Uswatun sendiri tinggal di Tulungagung tempat dia bekerja.
Tersiar Kabar Korban Mutilasi Dalam Koper Merah di Ngawi Adalah Warga Blitar
Mayat Dalam Koper Merah Ngawi Korban Mutilasi Seorang Wanita
Ana Yuliana dan kedua anaknya terakhir bertemu dengan korban pada Jumat, 17 Januari 2025, salah satunya membicarakan masalah penting dengan korban sebelum ia berpamitan kembali ke Tulungagung.
Kini penemuan anggota tubuh terpotong yang ditemukan dalam koper warna merah di sebuah parit dekat pembuangan sampah menjadi perhatian netizen.
Uswatun sendiri merupakan seorang wanita muda normal yang juga memiliki akun sosial media seperti akunnya @uswatunkha62 di TikTok cukup aktif update status.
Sejumlah unggahan Uswatun dalam akun TikTok mengandung pesan trenyuh yang bisa membuat wargane berempati terhadap pesan unggahannya.
Sebelum kematiannya Uswatun juga mengunggah pesan untuk kedua buah hatinya seorang anak lakilaki dan anak perempuannya bertepatan di hari anak sedunia 20 November yang berbunti:
Ya Allah kutitipkan selaga urusan anakku kepada Mu. Kesehatan, Rezeki, Masa depan, Hati, Akhak Kebagiaan dan Agamanya.
Ya Allah, berikan takdir terbaik untuk anakku, wujudkan harapan dan mimpinya di waktu yang tepat. Lindungilah setiap langkahnya, jagalah dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
Dan waqafkanlah dia dalam ilmu akhirat agar kelak bisa menjemputku di pintu SurgaMu.
Hasbunallah Wani’mal Wakil.
Ungkapan di atas merupakan pesan terakhir Uswatun Khasanah kepada sang pencipta atas kedua buah hatinya, sebelum peristiwa tragis menimpa dirinya, ini membuat warganet semakin trenyuh.
Geger di Kendal Ngawi, Mayat Wanita Tanpa Busana di Dalam Koper Merah
Mayat Dalam Koper Merah Adalah Uswatun Khasanah Warga Sidodadi Blitar
Unggahan ini tentu membuat trenyuh bagi orang yang membacanya, dari ungkapan seorang ibu tunggal yang ingin membesarkan anak-anaknya menjadi doa untuk mereka berdua.
Seperti kita ketahui Uswatun Khasanah selama ini berjuang dalam membesarkan kedua anaknya yang masih membutuhkan biaya untuk sekolah mereka.
Dia bekerja keras sebagai seorang sales produk kosmetik di Tulungagung selama kurang lebih lima tahun terakhir, demi anak-anaknya yang dititipkan kepada kerabatnya di Blitar.
Tentus aja kepergian Uswatun akan meninggalkan duka yang mendalam bagi kedua anaknya, dan orangtuanya serta kerabat dan teman-teman kerja mereka.
Sebelumnya Uswatun juga mengungkapkan kata-kata, ” Terimakasih untuk setiap kata “iya” dan “boleh” dari setiap inginku. Semuga itu menjadi magnet rezeki yang mengalir deras untukmu.”
Pada bulan Juni 2024 Uswatun juga mengunggah pesan yang cukup membuat trenyuh netizen yang berbunyi:
“Nanti kamu bakal merasakan berharganya seseorang, ketika kami mencari tapi gak lagi menemukannya, nanti kamu akan sadar udah kehilangan saat apa yang kamu genggam kemarin bener-bener pergi. Yang tulus gak akan kedua kali, walaupun kamu menemukan yang baru pasti ga akan sama yang dulu lagi,” tulisnya tertanggal @duatujuhjuni.
Sebelum unggahan ini muncul Uswatun juga mengunggah ungkapan mendalam dalam bahasa Jawa yang sangat mendalam, simak kata-katanya:
“Ya Allah
Batu kulo noto sekabehane ben saget dadi sing luwih apik kabeh kuasane Panjenengan.
Kulo nyobo berusaha semampune tangan lan sikile kulo.
Kulo mung percoyo Panjenengan, seng gadah dalan kange cerito uripe kulo lan rosone kulo.
Panjenengan seng boten pernah nyudutake kulo, masio keadaane kulo nembe teng posisi seng paling ngisor.
Lan Panjenengan seng beto kunci kabeh masalahah urip iki.
Kekep kulo ya Allah..
ben kulo mboten ringkih, ben kulo terus iklas, sabar lan kuat ing ridhone lan kasih sayange Panjenengan.
(Ya Allah, bantulah saya menata semuanya agar bisa jadi lebih baik dari kuasa Mu.
Saya mencoba berusaha semampuku tangan dan kaki saya.
Saya hanya percaya kepada Mu, yang memiliki jalan untuk cerita dan merasakan hidup saya.
Kepadamu yang tidak pernah menyudutkan saya, meskipun keadaan saya sedang dalam posisi di bawah.
Dan kamu yang membawa kunci semua masalah hidup ini.
Peluklah saya ya Allah..
Aga saya tidak lemah, bia saya terus iklas, sabar dan kuat dari ridho dan kasih sayang Mu)
Seperti diberitakan sebelumnya kasus potongan jazad di dalam koper merah yang ditemukan tempat pembuangan sampah di Desa Dadapan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Kamis (23/1/2025) sudah terungkap identitasnya.
Keluarga korban mengakui jika mayat dalam koper merah itu adalah keluarganya bernama Uswatun Khasanah (29) merupakan janda dua anak yang bekerja di Tulungagung.
Diketahui korban adalah warga Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar yang bekerja sebagai sales produk kosmetik.
Meski demikian Polres Ngawi masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengungkap siapa pelaku mutilasi hingga jazad korban terpotong-potong.
Dari hasil pemeriksaan autopsi sementara dari sebagian potongan jenazah korban yang ada ditemukan kematian korban mutilasi tidak biasa.
Kasat Reskrim Polres Ngawi, AKP Joshua Peter Kresnawan mengatakan kepada wartawan di Ngawi penyebab kematian korban karena afiksia atau kekurangan nafas.
Sehingga ada dugaan kuat jika kematian Uswantun Khasanah meninggal dunia karerna dicekik sebelum kemudian dimutilasi oleh pelaku.
Menurut Joshua penyebabkematian kurban diduga karena kekurangan nafas akibat terhambat jalan pernafasannya, kemungkinan karena akibat cekikan di jalan pernafasan.
Selain kekurangan nafas menurut Joshua korban diduga juga mengelami aksi kekerasan sebelum kemudian ia meninggal dunia.
Alasan dari hal tersebut di atas adanya hal terlihat dari resapan darah yang ditemukan di badan korban, namun terkait ini polisi masih akan terus mendalami kasus tersebut.
Joshua juga menduga aksi pembunuhan yang dialami korban hingga terjadi mutilasi diperkirakan dilakukan di luar Kabupaten nagwi.
Sementara Hendi Suprapto (44) ayah tiri korban mengungkapkan perasaan saat di RSUD dr Soeroto Ngawi, Jumat (24/1/2025) yang mengaku terpukul dengan peristiwa itu.
Hendi juga memastikan bahwa potongan tubuh dalam koper adalah anaknya Uswatun Khasanah, dan ia berharap potongan tubuh yang lain segera ditemukan.
Hendi menilai jika apa yang dialami anaknya itu merupakan perbuatan biadap yang tidak manusiawi, hingga menyebabkan ibu Uswatun Khasanah sangat terpukul.
Hendi mengaku terakhir bertemu dengan anaknya adalah pada Jumat seminggu yang lalu, kemudian hari Senin berikutnya korban sudah tidak tidak bisa dihubungi lagi.
Ketika dihubungi via WhatsApp indikatornya centang satu dan itu terjadi sampai kemudian jenazah anaknya sudah dalam keadaan terpotong-potong.
Ayah korban ini baru mengetahui ada penemuan mayat di dalam koper yang ditemukan di Ngawi pada Kamis (23/1/2025) malam saat ke Polsek Garum, Blitar.
Untuk meyakini ciri-ciri mayat yang disampaikan petugas kepolisian Blitar, terutama ciri khusus tindik di puasar, ia pun kemudian mendatangi RSUD dr Soeroto Ngawi.
Dan dari pengecekan itu Hendi memastikan apakah potongan mayat dalam koper itu anaknya atau bukan, ia sudah memastikan 90 persen potongan jazad itu adalah anaknya.
Apalagi diperkuat dengan ciri-ciri lainnya yang semakin menguatkan seperti gelang, sandal hingga tindik di perut yang sudah dipastikan itu adalah Uswatun Khasanah.
Menurut Hendi tidak mengetahui pekerjaan anaknya namun menurut kerabat lain, sejauh ini korban bekerja di Tulungagung sebagai sales salah satu produk kosmetik yang bekerja sejak beberapa tahun lalu.
Korban adalah janda dengan dua anak berusia 7 tahun dan 10 tahun, sementara Uswatun sendiri merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. **

