KITAINDONESIASATU.COM – Pertumbuhan ekonomi provinsi Jawa Timur pada triwulan I tahun 2026 memperlihat kinerja positif dan mengalami peningkatan pertumbuhan dari sebelumnya.
Dalam situasi global yang belum menentu menunjukkan kinerja yang semakin kuat dengan tercatat tumbuh 5,96 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Hal ini ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah di tengah perlambatan ekspor.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, dalam acara Media Briefing Triwulan II 2026 yang digelar di Kantor OJK Surabaya, Senin (22/6/2026) mengungkapkan adanya pertumbuhan positif.
Ibrahim menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Jatim pada awal tahun 2026 didorong oleh meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat yang bertepatan dengan sejumlah momentum penting, seperti perayaan Imlek, Nyepi, Ramadan, hingga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026.
Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan I 2026, seiring aktivitas masyarakat yang meningkat selama berbagai perayaan keagamaan memberikan dampak positif terhadap sektor perdagangan dan jasa.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi juga menunjukkan akselerasi yang cukup kuat, hal ini didukung oleh pembangunan sekolah rakyat, revitalisasi berbagai fasilitas pendidikan, pembangunan infrastruktur jalan, hingga meningkatnya impor barang modal yang menunjang aktivitas produksi dan pembangunan.
Berdasarkan data dari BPS, pada periode Januari–April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor nonmigas menjadi penopang utama dengan nilai USD87,74 miliar, kinerja tersebut tidak lepas dari kontribusi sektor industri pengolahan yang terus menjadi tulang punggung ekspor Indonesia.
Selama Januari-April 2026, BPS mencatat sektor industri pengolahan memberikan kontribusi ekspor senilai USD75,57 miliar.
Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar selama Januari–April 2026, dengan nilai USD22,76 miliar, disusul Amerika Serikat USD10,17 miliar, dan India USD6,14 miliar.
Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar USD17,70 miliar dan USD6 miliar.
Sementara itu, Jawa Tengah turut memberikan kontribusi terhadap kinerja ekspor nasional dengan nilai mencapai USD4,5 miliar pada periode Januari–April 2026.
Namun, aktivitas ekspor masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan biaya logistik hingga tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap biaya produksi dan daya saing produk ekspor.
Menurut Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah sekitar 70 persen bahan baku kita masih impor di negara China dan beberapa negara lainnya di Asia Timur, beberapa bahan baku plastik itu naik yang otomatis mempengaruhi perdagangan ekspor di negara kita. **

