KITAINDONESIASATU.COM – Enam ledakan besar mengguncang ibu kota Lebanon pada Jumat sore, 27 September 2024.
Asap tebal terlihat hingga Batroun, sebuah kota yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Beirut.
Beberapa gedung apartemen di kawasan Haret Hreik hancur, menyisakan puing-puing.
Rekaman dari tempat kejadian menunjukkan reruntuhan beton besar dan puing-puing logam, serta beberapa kawah yang terbentuk akibat ledakan.
BACA JUGA: Nasrallah, Hizbullah dan Israel dalam Bayang-Bayang Perang
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan dua orang tewas dan 76 lainnya terluka, namun angka ini masih bersifat sementara.
Beberapa laporan awal bahkan menyebut jumlah korban tewas bisa mencapai 300 orang. Jumlah korban diperkirakan akan meningkat seiring upaya penyelamatan yang sedang berlangsung.
Serangan tersebut diduga menggunakan amunisi penembus tanah (bunker buster).
Beberapa video menunjukkan semburan api saat bom meledak di bawah tanah.
Militer Israel, melalui juru bicaranya Laksamana Muda Daniel Hagari, menyatakan bahwa serangan ini menargetkan markas Hizbullah yang terletak di bawah tanah di daerah perumahan.
Beberapa media Israel melaporkan bahwa target utama serangan tersebut adalah pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, meskipun belum ada konfirmasi pasti mengenai kondisinya.
Namun, sumber Hizbullah mengklaim bahwa Nasrallah dalam keadaan aman. Di malam hari, kantor media Hizbullah menepis klaim bahwa Israel melancarkan serangan di Beirut selatan.
Serangan ini terjadi setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidatonya di PBB menyatakan bahwa kampanye militer Israel melawan Hizbullah akan terus berlanjut meskipun ada upaya internasional untuk memberlakukan gencatan senjata.
Kedutaan Besar Iran mengecam serangan tersebut sebagai “escalation” yang dapat mengubah dinamika konflik, sementara Kedutaan Besar Inggris memperingatkan warganya di Lebanon untuk segera meninggalkan negara tersebut.
Netanyahu, yang dilaporkan telah menyetujui serangan ini secara pribadi, mempercepat kepulangannya dari kunjungan ke AS setelah operasi tersebut.
Konflik antara Israel dan Hizbullah telah meningkat secara drastis dalam seminggu terakhir. Lebih dari 720 orang tewas di Lebanon akibat serangan udara Israel, dan Hizbullah membalas dengan serangan roket ke Israel utara.- ***
Sumber: The Guardian


