KITAINDONESIASATU.COM – Dokter Lintas Batas (MSF) melaporkan pada hari Jumat bahwa ribuan warga sipil Palestina terjebak di kamp Jabaliya. Operasi militer Israel di daerah tersebut berlanjut selama enam hari berturut-turut.
Koordinator proyek MSF, Sarah Vuylsteke, menyatakan di akun media sosial organisasi tersebut bahwa “tidak ada yang diizinkan masuk atau keluar, siapa pun yang mencoba akan ditembak”.
Lima staf MSF terjebak di kamp dan merasa takut akan keselamatan mereka.
Salah satu pengemudi MSF, Haydar, yang juga terjebak di Jabaliya, mengungkapkan kekhawatiran mendalam.
Haydar menyatakan bahwa mereka sebelumnya berlindung di Rumah Sakit Al-Yemen-Al-Saeed, namun rumah sakit tersebut dibombardir. Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 20 orang tewas dalam serangan itu, dan dirinya merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena merasa bisa mati kapan saja.
Haydar juga menyampaikan kekhawatiran tentang kelaparan dan ancaman konstan.
MSF menuduh Israel memerintahkan evakuasi di Jabaliya, tetapi tindakan tersebut menghalangi warga untuk meninggalkan daerah itu dengan aman.
MSF juga menyatakan bahwa serangan Israel menghancurkan rumah dan lingkungan, menjadikan Gaza utara tidak layak huni, serta mendesak Israel untuk menghentikan pemindahan paksa dan memungkinkan bantuan kemanusiaan memasuki wilayah tersebut.
Di Jalur Gaza, serangan Israel semakin intens. Lebih dari 60 korban tewas dalam 24 jam terakhir.
Kamp Jabaliya tetap terkepung, dan operasi darat serta udara terus dilakukan, menyebabkan tim medis kesulitan menjangkau korban.
Israel mendapat kecaman internasional karena mengabaikan seruan Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata, sementara jumlah korban di Gaza terus meningkat.
Serangan Israel juga menyebabkan pengungsian massal sekitar dua juta orang dari Gaza utara menuju kota Rafah, dalam eksodus terbesar warga Palestina sejak Nakba tahun 1948.- ***
Sumber: Palestine Chronicle




Respon (1)