News

Pawai Rakyat di Seattle, Simbol Perlawanan Jelang Pelantikan Trump

×

Pawai Rakyat di Seattle, Simbol Perlawanan Jelang Pelantikan Trump

Sebarkan artikel ini
FotoJet 4 17
Pawai Rakyat di Seattle

KITAINDONESIASATU.COM – Ribuan orang menghadiri Pawai Rakyat di Seattle pada Sabtu, 18 Januari 2025. Dimulai dari Cal Anderson Park dan berakhir di Seattle Center.

Demonstrasi ini menyerukan hak reproduksi, keadilan rasial, hak asasi manusia, keadilan lingkungan, demokrasi, serta peningkatan akses pendidikan dan pekerjaan.

Acara ini merupakan bagian dari protes tahunan yang dimulai sejak masa jabatan pertama Donald Trump dan digelar bersamaan dengan rangkaian pelantikan presiden di Washington, D.C. pada Senin mendatang.

Meski lebih tenang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, massa mengangkat spanduk bertuliskan pesan-pesan seperti “Hak reproduksi adalah hak asasi manusia” dan “Kami tidak akan mundur.”

Kelompok Renton Rally hadir membawa plakat berbentuk batu nisan sebagai simbolis “RIP Medicare” dan “RIP Women’s Rights”.

Beberapa peserta, seperti Leslie Kreher, 72 tahun, dan Nancy Stokley, 78 tahun, membagikan keprihatinan mereka tentang isu-isu seperti lingkungan dan hak perempuan.

Stokley, yang juga pernah terlibat dalam legalisasi aborsi di masa lalu, merasa kecewa karena harus kembali memperjuangkan isu yang sama.

Selain itu, kelompok advokasi seperti Planned Parenthood dan Northwest Immigrant Rights Project bermitra dalam penyelenggaraan acara ini.

Beberapa mahasiswa muda, seperti Charlotte Jensen dan Ikenna Ekrich, menyoroti perlunya solidaritas terhadap kelompok tertindas, kebijakan iklim yang lebih baik, dan perlawanan terhadap kapitalisme.

Jumlah peserta sekitar 3.500 orang, jauh lebih kecil dibandingkan dengan 120.000 orang pada pawai tahun 2017 dan lebih dari 100.000 pada 2018.

Banyak peserta memahami penurunan ini, mengaitkannya dengan kelelahan, ketidakpastian, dan tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Namun, semangat untuk perubahan tetap hidup, terutama di kalangan generasi muda.

Para demonstran juga mencatat tantangan yang lebih besar selama empat tahun ke depan, termasuk kemungkinan kebijakan yang lebih agresif.

Sebagian peserta, seperti mahasiswa Bailey Cunningham, berharap pemerintah dapat mengatasi perubahan iklim melalui pendekatan sistemik, bukan hanya mengandalkan perubahan individu.

Sementara itu, beberapa orang kulit berwarna menyatakan keprihatinan atas keamanan dan memilih untuk tetap berada di rumah.

Meskipun aksi ini lebih kecil dibandingkan dengan pawai sebelumnya, pesan solidaritas, keadilan, dan hak asasi manusia tetap menjadi inti dari gerakan ini.- ***

Sumber: Time Herald

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *