“Melalui sistem digital, kita dapat mewujudkan keterbukaan antara lembaga pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, praktik suap menyuap akan berkurang,” tegas Tamliha.
Ia menekankan pentingnya keterbukaan pemerintah untuk mencegah praktik-praktik kotor dan menciptakan pemerintahan yang lebih transparan, berwibawa, dan akuntabel.
Infrastruktur dan Kemandirian
Tamliha percaya bahwa infrastruktur adalah modal utama untuk pembangunan. Dengan 20 kecamatan, infrastruktur harus dibangun secara merata, termasuk jalan dan fasilitas lainnya. Menurutnya, pembangunan yang baik akan meningkatkan kecepatan ekonomi dan mengurangi ongkos, sehingga harga di pasar lebih terjangkau dan petani bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik.
“Amanah yang saya inginkan adalah Kabupaten Banjar memiliki kemandirian pangan dan energi, serta terhindar dari banjir. Dengan adanya Waduk Riam Kiwa, kami dapat membangun PLTA sekitar 6 megawatt dan mencetak sawah baru seluas 1.000 hingga 2.000 hektar,” jelas Tamliha.
Ia juga menekankan pentingnya kemandirian pangan dan energi untuk masyarakat Kabupaten Banjar, serta harapannya agar masyarakat terhindar dari banjir yang sering melanda 20 kecamatan.
Dengan pengalaman memimpin beberapa organisasi dan mengikuti berbagai kontestasi politik, Tamliha bertekad untuk membangun Kabupaten Banjar dengan gagasan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Pendidikan
Syaifullah Tamliha juga ingin memperbaiki sektor pendidikan di Kabupaten Banjar. Meski alokasi anggaran pendidikan mencapai 20%, kepuasan publik di bidang pendidikan hanya 5,3%.
