KITAINDONESIASATU.COM – Para staf senior presiden Yoon Suk Yeul mengajukan resign massal usai menyatakan penyesalan atas keputusan Pejabat Presiden Choi Sang Mok.
Korea Selatan tengah menghadapi gejolak politik besar setelah Presiden Yoon Suk Yeol dimakzulkan dan menjadi tersangka kasus penyalahgunaan kekuasaan, termasuk pengumuman status darurat militer.
Kini, situasi semakin panas dengan pengunduran diri massal dari staf senior kepresidenan pada 1 Januari 2025.
Para pejabat senior, termasuk kepala staf, penasihat kebijakan, penasihat keamanan nasional, dan sekretaris senior lainnya, menyatakan mundur sebagai bentuk penyesalan atas keputusan Penjabat Presiden Choi Sang-mok.
BACA JUGA : Untuk Korban Tragedi Jeju Air, Ini Pesan Belasungkawa Yoon Suk Yeol di Tengah Sidang Pemakzulan
Keputusan Choi untuk menunjuk dua hakim baru yang akan memutuskan nasib Yoon memicu ketegangan tersebut.
Namun, Choi menolak pengunduran diri mereka, menegaskan fokusnya adalah pada pemulihan ekonomi dan stabilitas negara, seperti yang dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, pengadilan Korea Selatan telah menyetujui surat perintah penangkapan terhadap Yoon Suk Yeol.
Ia menjadi presiden pertama dalam sejarah negara itu yang terancam ditangkap saat masih menjabat. Surat perintah tersebut dikeluarkan atas tuduhan bahwa Yoon memprakarsai darurat militer, melakukan pemberontakan, dan menyalahgunakan kekuasaan.
Otoritas penegak hukum diberikan waktu 48 jam untuk menahan Yoon, tetapi pelaksanaan perintah itu terhambat oleh Pasukan Pengamanan Presiden yang menolak akses penyidik ke kompleks kepresidenan dan rumah dinas Yoon.
Kendati Yoon memiliki kekebalan hukum sebagai presiden, perlindungan tersebut tidak berlaku untuk kasus pemberontakan dan pengkhianatan.
Saat ini, Mahkamah Konstitusi tengah memeriksa keputusan Majelis Nasional yang memakzulkan Yoon pada 14 Desember.
Mereka memiliki waktu hingga 180 hari untuk menentukan apakah Yoon akan resmi diberhentikan atau tetap menjabat sebagai presiden.
Situasi ini menjadi ujian besar bagi stabilitas politik Korea Selatan di tengah tekanan dari berbagai pihak.

