Sementara itu, menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Garut (Agustus 2025), total luas lahan jagung di Garut mencapai 18.500 hektare, dengan produksi tahunan diperkirakan tembus 650.000 ton.
Ini menjadikan Garut sebagai produsen jagung terbesar kedua di Jawa Barat, setelah Ciamis.
Selain itu, rata-rata produktivitas di wilayah ini mencapai 5,8 ton per hektare, di atas rata-rata nasional yang hanya 5 ton/hektare.
Untuk menjaga kualitas pasca-panen, Kapolda Jabar memperkenalkan inovasi terbaru: Solar Dryer Dome, alat pengering hasil pertanian berbasis energi matahari.
Alat ini dirancang untuk memaksimalkan penyerapan sinar matahari dan sirkulasi udara alami, sehingga proses pengeringan jagung menjadi lebih cepat, higienis, dan bebas kontaminasi debu atau hujan.
“Alat ini menjaga kadar air jagung tetap stabil di bawah 14%, yang ideal untuk penyimpanan jangka panjang dan distribusi ke pabrik pakan ternak,” jelasnya. Penggunaan teknologi ramah lingkungan ini juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi petani.
Selain soal produksi, Kapolda juga menekankan pentingnya stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat. Ia mendukung penuh Gerakan Pasar Murah yang digelar secara berkala untuk menstabilkan harga pangan pokok, termasuk jagung, di tingkat konsumen.
