News

Nada Alifia Susandi, Chinmoku Seni Keheningan dalam Budaya Jepang

×

Nada Alifia Susandi, Chinmoku Seni Keheningan dalam Budaya Jepang

Sebarkan artikel ini
Nada Alifia Susandi
Nada Alifia Susandi, Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (KIS/NICKO)

Sisi Negatif Keheningan

Meski keheningan sering kali dilihat sebagai sesuatu yang positif dalam budaya Jepang, ada juga sisi negatifnya. Keheningan terkadang dapat menyebabkan kebingungan, terutama dalam komunikasi antarbudaya. Orang non-Jepang mungkin menganggap keheningan sebagai tanda ketidakpedulian atau ketidakpastian, sementara bagi orang Jepang, keheningan adalah bentuk kesopanan.

Selain itu, keheningan dapat digunakan secara tidak etis. Misalnya, dalam kasus perundungan, siswa yang diam mungkin melakukannya bukan karena takut, tetapi untuk menjaga jarak atau mengabaikan situasi. Keheningan juga sering menjadi strategi untuk menghindari tanggung jawab, seperti yang dilakukan oleh politisi atau eksekutif bisnis ketika mereka lebih memilih diam daripada mengakui kesalahan.

Keheningan dalam Komunikasi Antarbudaya

Perbedaan pandangan terhadap keheningan ini sering kali menjadi penghalang dalam komunikasi antarbudaya. Budaya Barat, yang lebih mengutamakan komunikasi verbal yang eksplisit, mungkin melihat keheningan sebagai hal negatif. Sebaliknya, dalam budaya Jepang, keheningan adalah cara menjaga keharmonisan kelompok dan menghindari konfrontasi.

Kesimpulan

Keheningan dalam budaya Jepang memiliki peran yang kompleks dan mendalam. Di satu sisi, keheningan adalah cara untuk menjaga keharmonisan dan menghindari konflik, namun di sisi lain, keheningan juga bisa menimbulkan kesalahpahaman atau digunakan untuk tujuan yang negatif. Memahami makna keheningan ini sangat penting untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antara budaya Jepang dan budaya lain yang lebih menekankan pada ekspresi verbal. (dikutip dari beberapa sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *