News

Nada Alifia Susandi, Chinmoku Seni Keheningan dalam Budaya Jepang

×

Nada Alifia Susandi, Chinmoku Seni Keheningan dalam Budaya Jepang

Sebarkan artikel ini
Nada Alifia Susandi
Nada Alifia Susandi, Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (KIS/NICKO)

Bahkan dalam musik Jepang, unsur keheningan, yang disebut ma, memegang peran penting.

Ma merujuk pada interval di antara bunyi-bunyian, yang dianggap menentukan ritme dan memberikan nuansa mendalam dalam pertunjukan. Demikian pula, dalam seni pertunjukan seperti drama kabuki dan noh, keheningan digunakan untuk mengekspresikan ketegangan, kegembiraan, atau klimaks dalam cerita.

Peran Keheningan dalam Kehidupan Sosial Jepang

Pepatah Jepang “Deru kui wa utareru” (paku yang menancap akan dipalu) menggambarkan pentingnya harmoni sosial dalam masyarakat Jepang.

Individu yang menyuarakan pendapat sebelum ada kesepakatan kelompok dianggap egois. Oleh karena itu, diam sering kali dipilih sebagai cara untuk menjaga keharmonisan dan menghindari konflik. Dalam interaksi sosial, keheningan menjadi alat untuk menunjukkan rasa hormat dan menahan diri, terutama ketika berhadapan dengan seseorang yang lebih tinggi statusnya dalam hierarki sosial.

Keheningan juga memiliki fungsi khusus dalam hubungan pribadi. Pasangan di Jepang cenderung menggunakan komunikasi nonverbal untuk saling memahami, lebih memilih diam daripada mengekspresikan perasaan mereka secara terbuka. Dalam konteks ini, keheningan berfungsi sebagai “pelumas” yang menjaga hubungan tetap harmonis dan damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *