KITAINDONESIASATU.COM – MPR menggelar sidang terakhir masa jabatan 2019 -2024, Rabu (26/9/2024) malam. Hasilnya, MPR mencabut dua Ketetapan (TAP) MPR tentang Presiden Soeharto dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Pencabutan itu diputuskan dalam Sidang Paripurna MPR akhir periode 2019-2024. Setelah pencabutan itu dilakukan, kini MPR usulkan agar 2 mantan presiden itu, diberi gelar Pahlawan Nasional.
Dalam sidang yang dipimpin Ketua MPR Bambang Soesatyo, hadir juga Ketua DPR Puan Maharani, para Wakil Ketua MPR: Ahmad Basarah, Ahmad Muzani, Lestari Moerdijat, Jazilul Fawaid, Sjarifuddin Hasan, Hidayat Nur Wahid, Fadel Muhammad, Yandri Susanto dan Amir Uskara, para Wakil Ketua DPR: Lodewijk Freidrich Paulus, Sufmi Dasco Ahmad, Rachmad Gobel dan Muhaimin Iskandar serta Wakil Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin.
Dengan dicabutnya dua TAP MPR itu, maka tuduhan hukum terhadap Soeharto dan Gus Dur kini sudah tidak berlaku lagi. Dengan demikian, maka sudah sepatutnya negara memberikan penghargaan kepada dua mantan presiden yang telah memberikan jasa selama masa hidupnya.
“Seluruh hal tersebut dilaksanakan pimpinan MPR sebagai bagian dari penyadaran kita bersama untuk mewujudkan rekonsiliasi nasional dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan,” kata Bamsoet-sapaan Bambang Soesatyo, di Komplek Parlemen, Jakarta, Rabu (25/9/2024).
Politisi Partai Golkar ini menegaskan, MPR adalah rumah kebangsaan milik bersama. MPR adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia. Sudah sepantasnya dalam kerangka itu MPR merajut persatuan bangsa.
“Karenanya, pimpinan MPR RI mendorong agar jasa dan pengabdian dari mantan Presiden Soekarno, mantan Presiden Soeharto, dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, dapat diberikan penghargaan yang layak sesuai dengan peraturan perundang-undangan sebagai pahlawan nasional, termasuk gelar Pahlawan Nasional,” sambungnya.
Dia mengingatkan jangan sampai ada warga negara Indonesia, apalagi seorang pemimpin bangsa yang harus menjalani sanksi hukuman tanpa adanya proses hukum yang adil. Tidak perlu ada lagi dendam sejarah yang diwariskan kepada anak-anak bangsa yang tidak pernah tahu, apalagi terlibat pada berbagai peristiwa kelam di masa lalu.



