Tempat peristirahatan terakhir ini merupakan kompleks makam para Bupati Bandung dari masa ke masa, termasuk R.A.A. Martanagara dan tokoh-tokoh penting lainnya yang berjasa memindahkan ibu kota kabupaten ke tepian Sungai Cikapundung pada tahun 1810 silam.
Mengunjungi tempat ini adalah bentuk penghormatan langsung kepada para arsitek awal tata ruang Kota Bandung.
Apresiasi untuk Para Kuncen: Penjaga Warisan Budaya
Dalam setiap kunjungannya, rombongan Pemkot Bandung tidak hanya memimpin doa dan menabur bunga (nyekar). Mereka juga menyerahkan paket sembako dan kadeudeuh kepada para kuncen (juru kunci) dan petugas penjaga makam.
Dalam filosofi Sunda, kadeudeuh adalah simbol rasa syukur, penghormatan, dan ikatan batin yang tulus. Pemberian ini merupakan bentuk apresiasi nyata dari pemerintah atas dedikasi para penjaga makam yang selama ini bekerja dalam sunyi, memastikan situs-situs bersejarah tersebut tetap terawat, bersih, dan terhindar dari kerusakan akibat vandalisme atau alih fungsi lahan.
Membangun Kota Tanpa Kehilangan Jati Diri
Wali Kota Muhammad Farhan dalam sambutannya menekankan bahwa Hari Jadi Kota Bandung harus dimaknai lebih dari sekadar pesta kembang api atau seremonial panggung hiburan. Momentum ini adalah refleksi untuk menghargai jerih payah para leluhur.






