KITAINDONESIASATU.COM – Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai Indonesia masih berada dalam kondisi aman dari ancaman darurat energi meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat.
Pemerintah disebut masih mampu menjaga stabilitas di tengah potensi tekanan global.
Ia menegaskan hingga saat ini belum ada rencana untuk mengubah postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 maupun kebijakan subsidi energi.
Menurutnya, langkah penyesuaian baru akan dipertimbangkan jika terjadi lonjakan harga minyak yang sangat tinggi dan berdampak signifikan.
Pasokan Energi Masih Aman
Purbaya menjelaskan bahwa indikator utama kondisi darurat energi bukan semata kenaikan harga, melainkan terganggunya pasokan.
Dalam konteks Indonesia, pasokan energi masih tersedia sehingga belum dapat dikategorikan sebagai kondisi darurat.
Pemerintah, lanjutnya, terus memantau perkembangan global, terutama dampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap rantai pasok energi dunia.
Kewaspadaan tetap diperlukan, namun ia menilai langkah kebijakan besar masih terlalu dini untuk diambil.
Ia juga memastikan kebijakan subsidi bahan bakar minyak belum akan diubah dalam waktu dekat. Pemerintah memilih menjaga stabilitas fiskal sembari mencermati situasi global yang masih berkembang.
Dari sisi asumsi makro, harga minyak mentah Indonesia saat ini berada di kisaran 74 dolar AS per barel, sedikit lebih tinggi dibandingkan asumsi awal APBN sekitar 70 dolar AS per barel.
Meski demikian, selisih tersebut masih dinilai dalam batas yang dapat dikelola tanpa mengganggu stabilitas anggaran negara.(*)

