Dalam konteks global, Gita membandingkan capaian Tiongkok dengan Asia Tenggara. Selama 30 tahun terakhir, produk domestik bruto (PDB) per kapita Tiongkok tumbuh 30 kali lipat, sementara Asia Tenggara hanya 2,7 kali lipat.
Perbedaan itu, menurut dia, karena Tiongkok berhasil menginvestasikan sumber daya pada pendidikan, infrastruktur, tata kelola, daya saing, serta model politik-ekonomi yang memungkinkan otonomi kota untuk mendorong pertumbuhan lokal.
“Nasionalisme sejati tidak berhenti pada identitas, melainkan pada siapa yang mampu menikmati manfaat pembangunan. Keterbukaan terhadap talenta, imajinasi, ambisi, serta keberuntungan yang dibentuk oleh kerja keras harus menjadi nilai utama generasi muda kita,” kata Gita. (Anang Fadhilah)***



