KITAINDONESIASATU.COM – Universitas Paramadina menggelar Forum Meet the Leaders dengan menghadirkan Gita Wirjawan sebagai narasumber. Acara yang dipandu oleh Wijayanto Samirin ini merupakan seri keenam dengan tema “What It Takes: Southeast Asia from Periphery to Core of Global Consciousness”. Diskusi berlangsung di Auditorium Benny Subianto, Kampus Paramadina Kuningan, Jakarta, Jumat (5/9/2025).
Dalam paparannya, Gita menyoroti lemahnya narasi Asia Tenggara di panggung global. Dari 140 juta buku yang terbit di dunia, hanya 0,26 persen yang membahas kawasan Asia Tenggara, meski dihuni lebih dari 700 juta penduduk.
“Ini menunjukkan masih lemahnya kemampuan masyarakat Asia Tenggara dalam bercerita, menguasai literasi, dan numerasi,” ujarnya.
Mantan Menteri Perdagangan pada Kabinet Indonesia Bersatu II itu juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi transformasi. Saat ini, 88 persen kepala keluarga dan 93 persen pemilih di Indonesia belum menempuh pendidikan strata satu. Kondisi ini, menurut Gita, menuntut investasi besar di sektor pendidikan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dan politik.
“Guru memiliki peran sentral dalam menyuntikkan imajinasi, ambisi, serta keberuntungan yang lahir dari kerja keras. Inilah modal utama generasi muda untuk melangkah maju,” tegasnya.
Selain pendidikan, Gita menyoroti ketimpangan sosial-ekonomi yang masih nyata. Kesenjangan itu termanifestasi dalam empat bentuk, yakni kekayaan, pendapatan, peluang, dan pertumbuhan ekonomi yang timpang antara kota besar dan daerah.
Ia juga menekankan pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur, terutama di sektor energi.
Indonesia, kata dia, membutuhkan tambahan 400 ribu megawatt listrik untuk menopang modernisasi, sementara kapasitas pembangunan saat ini baru sekitar 3.000–5.000 megawatt per tahun.


