News

Melawan Kotak Kosong di Pilkada Jatim Sulit Dikalahkan

×

Melawan Kotak Kosong di Pilkada Jatim Sulit Dikalahkan

Sebarkan artikel ini
kotak kosong
Fenomena kotak kosong dalam Pilkada 2024 (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur (KPU Jatim) telah memastikan di wilayahnya terdapat lima daerah kabupaten/kota dalam pelaksanaan Pilkada 2024 akan melawan kotak kosong alias hanya calon tunggal.

Kelima daerah itu terdiri antara lain dua kota madya Kota Surabaya dan Kota Pasuruan serta 3 kabupaten masing-masing Kabupaten Ngawi, Kabupaten Gresik dan Kabupaten Trenggalek.

Dari lima daerah melawan kotak kosong masih daerah adalah:

  1. Kota Surabaya
    Pasangan calon tunggal pasangan Eri Cahyadi – Armuji.

Pasangan ini didudukung seluruh partai yang ada yakni 18 partai politik (Parpol) yang ada di Kota Surabaya, antara lain:

PDI Perjuangan, PAN, PKS, PKB, PPP, Demokrat, Gerindra, Golkar, Nasdem, dan PSI.

Selain itu, ada partai non parlemen juga mendukung Eri-Armuji. Yakni Hanura, PBB, PKN, Partai Garuda, Gelora, Partai Ummat, Perindo, dan Partai Buruh.

  1. Kota Pasuruan
    Pasangan calon tunggal, Adi Wibowo – Mokhamad Nawawi.

Pasangan calon tunggal Wali Kota Pasuruan dan Calon Wakil Wali Kota Pasuruan ini didukung sembilan parpol yang ada di Kota Pasuruan.

Baca Juga  Tiga Titik Layanan SIM Keliling di Tangerang Selatan

Sementara partai pendukungan pasangan ini antara lain adalah Golkar, PKB, PKS, PDIP, dan PAN, kemudian Gerindra, Hanura, Nasdem dan PPP.

Total dukungan adalah Adi Wibowo – Mokhamad Nawawi memiliki 30 kursi di parlemen, artinya Adi Nawawi sapu bersih dukungan parpol parlemen.

Sementara beberapa parpol non parlemen sejauh ini belum mendaftar dukungan ke KPU seperti Perindo, Partai Umat, Partai Buruh, Partai Gelora, PKN, PBB, Demokrat dan PSI. Mereke memiliki 5000 lebih suara sah.

  1. Kabupaten Gresik
    Pasangan calon tunggal Kabupaten Gresik Fandi Akhmad Yani – Asluchul Alif.

Pasangan ini juga mendapat dukungan dari partai politik parelemen di DPRD Kabupaten Gresik seluruhnya mendukung pasangan ini, antara lain:

PDIP, Gerindra, PKB, Golkar, PPP, Demokrat, PAN, dan Nasdem, dari seluruh Parpol memiliki total kursi yang didapat sebesar 50 kursi DPRD Kabupaten Gresik.

Kemudian sebanyak 9 partai non parlemen merapatkan barisan, memberikan dukungan kepada pasangan ini antra lain dari:

Baca Juga  Wujudkan Pilkada Aman, Polsek Kawasan Sunda Kelapa Gelar ‘Ngopi Kamtibmas’

Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Garuda, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gelora, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Buruh, Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Hanura dan Partai Kebangkitan Nusantara (PKN).

  1. Kabupaten Ngawi
    Pasangan calon tunggal, Ony Anwar Harsono – Dwi Rianto Djatmiko.

Pasangan ini resmi dideklarasikan sebagai bakal pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Ngawi periode 2024-2029 pada Rabu (28/08/2024) dengan diusung oleh 12 partai politik.

Sebanyak 12 parpol yang mengusung pasangan ini antara lain PDIP, PKB, Golkar, Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat yang memiliki keterwakilan kursi di DPRD Kabupaten Ngawi.

Selain itu juga sejumlah partai non parlemen seperti Hanura, Nasdem, Perindo, PPP dan Partai Gelora.

  1. Kabupaten Trenggalek
    Pasangan calon tunggal, M Nur Arifin-Syah Muhammad Nata Negara.

Pasangan ini juga seperti calon tunggal dari kabupaten yang mendapatkan dukungan dari seluruh partai yang ada di Trenggalek seperti PDIP, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Hanura, PPP, dan PAN.

Baca Juga  Demokrat Dukung Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan Maju Pilgub Jabar

Selain di belakangan hari, tiga partai non-parlemen, yakni Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) dan Partai Buruh dan Nasdem juga memberikan rekomendasi dukungan.

Jika dilihat dari komposisi dukungan partai politik rasanya sulit kotak kosong yang ada di Jawa Timur mengalahkan calon tunggal yang ada itu.

Memang sejauh ini para calon tunggal merupakan petahana yang memiliki rekam jejak dalam pemerintahan di daerahnya cukup bagus, sehingga muncul aspirasi untuk kembali mencalonkan mereka untuk periode berikutnya.

Fenomena melawan kotak kosong atau calon tunggal menurut pengamat politik Unair Surabaya, Hari Fitrianto menyatakan fenomena ini tidak mencerminkan terjadinya krisis ekonomi, melainkan lebih terkait dengan penjadwalan pemilu yang terlalu rapat.

Kerena fenomena ini tidak ada kaitannya dengan krisis demokrasi, tetapi hanya soal pengaturan jadwal antara pemilu nasional dan pemilu regional atau daerah.

Hari mengatakan dengan adanya calon tunggal secara otomatis akan menang yang menurutnya akan mengurangi semangat masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *