KITAINDONESIASATU.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah Indonesia menjadi sorotan media Arab yang menyebut lebih dari 800 siswa jatuh sakit akibat kasus keracunan selama minggu ini.
“Lebih dari 800 siswa jatuh sakit dalam dua kasus keracunan makanan massal minggu ini setelah mengonsumsi makanan sekolah gratis yang disponsori oleh pemerintah Indonesia, kata para pejabat pada hari Jumat,” tulis media Saudi Arabia, Arabnews.com, Jumat (19/9/2025).
Bahkan disebutkan sejak Januari, ketika program MBG ini diluncurkan, bulan Agustus 2025 kemarin, lebih dari 4.000 anak telah terkena keracunan makanan setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Menurut Institute for Development of Economics and Finance terjadinya peristiwa keracunan ini akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan, terkait pengawasan yang dilakukan pihak pemerintah terhadap makanan yang dikonsumsi para siswa.
“Satu kasus memengaruhi lebih dari 500 orang dan merupakan wabah terbesar sejauh ini di bawah program unggulan Presiden Prabowo Subianto,” tulisnya.
Di provinsi Jawa Barat misalnya, sebanyak 569 siswa dari lima sekolah di wilayah di Kabupaten Garut mengalami mual dan muntah pada hari Rabu setelah mengonsumsi ayam dan nasi yang disediakan oleh satu dapur umum makanan gratis sehari sebelumnya.
“Hingga Jumat, sepuluh siswa masih dirawat di rumah sakit dan yang lainnya telah pulih. Awalnya, sekitar 30 siswa harus dirawat di rumah sakit, sementara sisanya dirawat di rumah,” Nurdin Yana, Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, mengatakan kepada kantor berita Reuters.
Pemerintah daerah akan meningkatkan pengawasan terhadap dapur umum yang menyediakan makanan tersebut, kata Yana, seraya menambahkan bahwa program tersebut tidak akan dihentikan, melainkan akan diberikan makanan pokok seperti roti, susu, telur rebus, dan buah untuk sementara waktu.
Pada hari yang sama Rabu lalu dengan kasus sama pula di Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah berdampak kepada 277 siswa kini Badan Gizi Nasional menghentikan sementara distribusi makanan di wilayah tersebut.
Juru bicara Kepresidenan Prasetyo Hadi, mengatakan pemerintah meminta maaf atas kemunculan kembali kasus-kasus di beberapa daerah yang, tentu saja, bukan yang harapkan atau tidak disengaja.
Berbagai pertanyaan telah muncul mengenai standar dan pengawasan program tersebut, yang telah berkembang pesat hingga menjangkau lebih dari 20 juta penerima, dengan target ambisius mencapai 83 juta penerima pada akhir tahun ini dan anggaran untuk tahun depan sebesar 171 triliun rupiah ($10,32 miliar). **

