KITAINDONESIASATU.COM -Fenomena menarik terjadi dalam gelaran Pilkada 2024 di Kalimantan Selatan (Kalsel), terutama dengan adanya beberapa calon tunggal yang akan bersaing melawan kotak kosong.
Di Kabupaten Balangan, pasangan calon (paslon) Abdul Hadi dan Ahmad Fauzi akan berkompetisi melawan kotak kosong. Begitu juga di Kabupaten Tanah Bumbu, di mana hanya ada satu paslon, Andi Rudi Latief dan H. Bahsanudin (ARB), yang maju.
Lebih mengejutkan lagi, terdapat situasi di Banjarbaru, di mana paslon Aditya Mufti Arifin dan Said Abdullah didiskualifikasi dari Pilkada Banjarbaru 2024.
Pengamat politik Taufik Arbain, Kamis 7 November 2024 menilai, fenomena melawan kotak kosong merupakan tantangan tersendiri bagi paslon yang terlibat.
Menurutnya, kompetisi ini akan menguji sejauh mana paslon mampu meyakinkan publik bahwa mereka lebih layak memimpin dan mampu memberikan pembangunan yang dibutuhkan oleh daerah tersebut, dibandingkan dengan sekadar “kotak kosong”.
Taufik juga menambahkan bahwa apabila ada pihak-pihak seperti civil society atau warga yang mengkampanyekan kotak kosong, hal itu merupakan bagian dari dinamika Pilkada yang mengirimkan pesan kritis dan menjadi tantangan bagi paslon yang ada.
Menurutnya, kehadiran kotak kosong dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya, kurangnya calon yang berminat maju karena tingginya elektabilitas pesaing atau adanya kasus tertentu yang menyebabkan disqualifikasi calon.
Lebih lanjut, Taufik menjelaskan bahwa paslon yang berhadapan dengan kotak kosong perlu memanfaatkan kesempatan ini dengan strategi kampanye yang efektif. Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah dengan mengedukasi pemilih tentang dinamika Pilkada, termasuk menjelaskan alasan di balik diskualifikasi yang mengarah pada munculnya kotak kosong.
Paslon juga perlu memperkenalkan kapasitas mereka kepada publik melalui program-program unggulan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.




Respon (1)