KITAINDONESIASATU.COM – Hingga kini masyarakat Palembang masih membicarakan video yang dibuat oleh konten kreator Willie Salim hingga viral di medsos mengenai memasak rendang di Benteng Kuto Besak (BKB). Ini membuat Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn angkat bicara.
Ia mengatakan, bahwa terkait hal itu masyarakat Palembang beranggapan direndahkan “Akibat konten itu, masyarakat kita merasa direndahkan, hal ini lantaran adanya komentar nitizen pada video yang beredar di medsos menyatakan Palembang seperti itu dan seperti ini,” kata SMB IV di damping R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Febri Irwansyah, Dato’ Pangeran Surya Kemas A. R. Panji, Youtuber Palembang Mang Dayat, Selasa (25/3/2025) malam.
Oleh karena itu, harus mengembalikan seperti semula dengan adanya kebaikan di Palembang Darussalam. Seperti yang diketahui bahwa Palembang Darussalam memiliki kebudayaan yang sudah sangat tua.
Sudah 1.400 tahun Kota ini berdiri sehingga Palembang memiliki kebudayaan yang cukup tinggi.
“Kita tidak ingin nama baik kita tercemar dan buruk akibat konten tersebut,” katanya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa konten yang dibuat oleh Willie Salim itu tidak mencerminkan kebudayaan Palembang yang sebenarnya.
Karena pihaknya melihat kesiapan yang kurang matang dilakukan Willie Salim dan juga adanya arahan tertentu untuk mengambil makanan sebanyak-banyaknya.
“Kita sendiri memiliki budaya semon atau malu, sehingga bila belum ada acara atau kata-kata diaturin kita tidak mau melakukan tindakan tersebut,” terangnya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa ini bukan budaya Palembang yang sesungguhnya. Sehingga Willie Salim harus meminta maaf dengan tulus dan sesungguh-sungguhnya. Bahkan pihaknya ingin mengembalikan keadaan yang seharusnya, dimana Palembang adalah Kota Berbudaya dan bermartabat.
Ia menuturkan, bahwa masyarakat Palembang memiliki budaya semon (malu) sebagai bentuk benteng harga diri yang Bismillahi rakhmani rakhiim disilahkan oleh tuan rumah.
Mereka juga tidak akan datang ke undangan makan jika bertamu, masyarakat Palembang tidak akan makan dahulu jika tidak ditawaki (ditawari) dan rakus, kemaruk atau sangat kelaparan (atau dalam istilah Palembang Laparaus).
Jika orang yang tidak mengundang dia tidak diundang, apalagi makan di tempat tersebut. Haram hukumnya makan di tempat dalam idangan.
Dalam hal penyajian makanan, Palembang pun mengenal istilah makan sajian kambang dan sajian buluh (bambu) sebatang yang masing memiliki tata tertib dilayani dengan baik dan ramah.
Dihidangkan nasi dengan lauk pauk mewah dan yang berkelas. Setiap orang yang dijamu makan dalam tradisi sajian tersebut akan tamu iyolah rajo yang wajib dilayani, disilahkan makan. Semua tamu undangan tidak disusahkan dengan melayani diri sendiri. Tamu betul-betul dimuliakan lengkap.(*)


